News

Kamis, 11 April 2019 - 10:14 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Penandatangan komitmen bersama penanggulangan stunting oleh Bupati Manggarai Timur (Foto: TeamYPF/Yon Sahaja)

Penandatangan komitmen bersama penanggulangan stunting oleh Bupati Manggarai Timur (Foto: TeamYPF/Yon Sahaja)

Ini Komitmen Pemerintah Untuk Cegah Stunting di KMT

Floreseditorial.com, Borong – Kabupaten Manggarai Timur perlu dibangun secara bersama-sama, bukan hanya oleh Pemerintah saja, tetapi oleh segenap elemen masyarakat Kabupaten Manggarai Timur (KMT).

Demikian Kata Bupati Manggarai Timur Agas Andreas,SH,M.Hum saat membuka kegiatan rembuk stunting tingkat Kabupaten Manggarai Timur di aula koperasi simpan pinjam Abdi Manggarai Timur Selasa, (9/04/2019).

Agas mengungkapkan, penyelenggaraan pembangunan di Kabupaten Manggarai Timur merupakan proses mewujudkan kondisi masyarakat Manggarai Timur ke arah yang lebih baik.

Kata Agas, rencana Kerja Pemerintah Daerah dalam kerangka visi-misi Kabupaten Manggarai Timur Periode 2019-2024  yaitu ”Mewujudkan Manggarai Timur yang Sejahtera, Berdaya dan Berbudaya”, yang disingkat dengan MATIM SEBER.

Loading...

Dalam Bahasa Manggarai lanjut Agas, kata SEBER mengandung arti “Budaya kerja” atau ”etos kerja”. Pemerintah bersama masyarakat didorong untuk memiliki budaya kerja yang berorientasi pada hasil maksimal dan unggul.

Berkaitan dengan masalah  penanganan  Stunting di Kabupaten Manggarai Pemerintah menyambut baik Program tersebut.

Hal ini tertuang dalam Misi 1 dari Arah Kebijakan Matim Seber yaitu Meningkatkan kualitas hidup manusia melalui Pemerataaan dan Peningkatan Kualitas Pendidikan, Pelatihan Keterampilan, serta Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat.

Kerangka Kebijakan Penanganan Stunting tertuang dalam UU N0. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU No. 18 Tahun 2012. Indonesia bergabung dalam Gerakan Global Scaling Up Nutrition (SUN) Movement pada Tahun 2011, Peraturan Presiden No.42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Gernas PPG) dan Pencegahan Stunting tercakup  dalam RPJMN 2015 2019.

Mengingat saat ini Indonesia sedang menghadapi tantangan utama dalam Pengendalian penyakit yakni adanya Transisi Epidemologi.

Hal ini menyebabkan munculnya beban ganda di Indonesia terkait Pengendalian penyakit menular yang belum selesai, sedangkan disisi lain kasus penyakit tidak menular semakin meningkat.

Status Gizi Kesehatan Ibu dan Anak, kata Bupati Agas, merupakan penentu Kualitas Sumber Daya Manusia, Status Gizi dan Kesehatan Ibu pada masa Pra-Hamil, saat kehamilannya dan saat menyusui merupakan periode yang kritis atau yang kita kenal 1000 (seribu Hari) pertama kehidupan.

“Walaupun remaja putri secara eksplisit tidak disebutkan dalam 1000 HPK, namun status Gizi remaja putri atau pranikah memiliki kontribusi besar pada kesehatan dan keselamatan kehamilan serta kelahiran, apabila remaja putri menjadi Ibu,” tandasnya.

Periode 1000 hari pertama kehidupan ini merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen.

Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode tersebut dalam langka Pendek adalah : Terganggunya Perkembangan Otak, Kecerdaasan, Gangguan Pertumbuhan Fisik, dan Gangguan Metabolisme dalam tubuh.

Sedangkan dalam jangka Panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah Terjadinya Stunting, Menurunnya Kemampuan Kognitif dan Prestasi Belajar, Menurunnya Kekebalan Tubuh sehingga mudah sakit, dan Resiko tinggi untuk munculnya penyakit Diabetes, Obesitas, Jantung, Kanker, Stroke dan Disabilitas pada Usia Tua, serta Kualitas kerja yang tidak Kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.

Seperti kita ketahui bahwa Sumber Daya Manusia yang berkualitas sangat dibutuhkan untuk mampu bersaing baik dengan Bangsa Lain mengingat persaingan Global semakin wajib diperhitungkan. Dengan Kualitas Kemampuan individu yang rendah akan berdampak pada minimnya Produktivitas dan Daya saing Anakanak Bangsa sebagai Sumber diandalkan.

“Harapan saya tentunya hal seperti ini tidak akan terjadi di Kabupaten Manggarai Timur yang kita cintai. Masyarakat Kabupaten Manggarai Timur harus sehat, cerdas dan kreatif sehingga kita bisa bersama-sama bersatu membangun Manggarai Timur Maju dan Sejahtera,” tandasnya.

Seperti diketahui, masalah Gizi merupakan masalah yang kompleks, tidak semata mata karena kurangnya asupan makanan. Banyak faktor yang menjadi penyebab masalah Gizi,baik langsung maupun tidak langsung.

Masalah Gizi secara langsung dipengaruhi oleh faktor Konsumsi Makanan dan Penyakit lnfeksi, keduanya merupakan faktor yang saling mempengaruhi.

Sedangkan penyebab tidak langsungnya adalah Ketersediaan dan Pola Konsumsi Rumah Tangga, Kesehatan Lingkungan dan Pola Asuh. Daya beli yang cukup juga belum bisa mencerminkan Kecukupan asupan Gizi anggota keluarga dalam rumah tangga tanpa pengetahuan terhadap Makanan Bergizi Seimbang.

Dalam rangka percepatan Perbaikan Gizi Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi Yang Fokus
Pada 1000 Hari Pertama kehidupan (HPK).

Bupati KMT juga mengungkapkan bahwa data telah menunjukan bahwa Pravelensi Stunting 10 Tahun terakhir bahwa Stunting merupakan salah satu masalah Gizi terbesar pada Balita di Indonesia.

Hasil riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2018 menunjukan 30,8% Balita menderita Stunting dan 29,9% Baduta pendek dan sangat pendek yang apabila dilakukan intervensi yang tepat maka dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

Sedangkan di NTT Riskedas 2013 Pravelensi Stunting mencapai 51,73%, Tahun 2018 Pravelensi Stunting 42,6 % (tertinggi), dan Man-arai Timur berdasarkan data Riskesdes Tahun 2013 55,4% dan pada Tahun 2018 47.8% (batasan WHO < 20%). Pravelensi persebaran Stunting di Kabupaten.

Manggararai Timur terdapat di 47′ Desa yang tersebar di 9 (sembilan) Kecamatan di Kabupaten Manggarai Timur dengan rincian : Puskesmas Tilir Kecamatan Borong 4 Desa, Puskesmas ”Sita. Kecamatan Rana Mese 7 Desa, Puskesmas Bea Kecamatan Elar, Puskesmas Kota Komba 1 Desa
dan di Elar Selatan 14  Desa yang tersebar di 4 Puskesmas.

Upaya percepatan pencegahan Stunting akan lebih efektif apabila Intervensi Gizi Spesiflk dan Intervensi Gizi Sensitif dilakukan secara konvergen. Konvergensi penyampaian layanan membutuhkan keterpaduan Proses Perencanaan, Penganggaran, dan Pemantauan Program/Kegiatan Pemerintah secara Lintas Sektor untuk memastikan tersedianya setiap layanan Intervensi Gizi Spesifik kepada Keluarga sasaran prioritas dan intervensi gizi sensitif untuk semua kelompok masyarakat terutama masyarakat miskin.

Program penurunan Stunting, kata Bupati Agas, adalah Proses untuk mengidentifikasi sebaran Pravelensi Stuntingfdalam wilayah Kabupaten/Kota, situasi ketersediaan program, dan praktik manajemen layanan saat ini.

Sebagai dasar perumusan rekomendasi kegiatan yang harus dilakukan untuk meningkatkan integrasi intervensi gizi prioritas bagi rumah tangga 1.000 HPK.

Mengakhiri sambutannya, Bupati Manggarai Timur mengajak semua pihak untuk bekerjasama dalam mendukung terwujudnya Gizi seimbang menuju Bangsa dan Kabupaten Manggarai Timur yang sehat berprestasi dan Percepatan Perbaikan Gizi 1.000 HPK.

“Saya percaya, dengan upaya yang maksimal kita akan mendapatkan hasil yang lebih baik,” tutur Bupati.

Pada bagian akhir kegiatan tersebut dilanjutkan dengan penandatangan komitmen bersama penanggulangan stunting oleh Bupati Manggarai Timur, Ketua DPRD Matim, Dinkes Provinsi NTT, bapeda Provinsi NTT, kadis PUPR Matim, Kadis Infokom, camat Rana Mese, Kepala Puskesmas Borong, Toko agama, dan kepala desa Compang Nderu.

Laporan : Yon Sahaja

Artikel ini telah dibaca 16726 kali

Baca Lainnya