Cheap NFL Jerseys From China Wholesale Jerseys

News

Jumat, 18 September 2020 - 15:49 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Limbah debu batu bara yang dikelola Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mengancam kehidupan warga wilayah Ropa, Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Rian Laka)

Limbah debu batu bara yang dikelola Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mengancam kehidupan warga wilayah Ropa, Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Rian Laka)

Limbah Batu Bara Ancam Kehidupan Petani dan Nelayan Ropa

Ende, floreseditorial.com – Tantangan paling menakutkan dari hadirnya industri atau pabrik di seluruh wilayah Indonesia adalah masalah limbah. Sebab, limbah adalah salah satu penyakit lingkungan yang paling mematikan. Artinya, dalam konteks ini, apabila limbah tidak segera ditangani secara baik, maka dampak pencemaran lingkungan akan membahayakan kehidupan masyarakat sekitar.

Minggu lalu, Jumat (11/9/2020), sekitar tujuh orang wartawan Ende melakukan investigasi terkait informasi tentang limbah debu batu bara yang dikelola Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang telah mencemari lingkungan perkebunan dan ekosistem laut di Wilayah Ropa, Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berdasarkan data hasil investigasi yang dihimpun floreseditorial.com seminggu terakhir, tersirat kehidupan masyarakat di wilayah Ropa, sungguh menyedihkan. Para petani dan nelayan wilayah Ropa terancam kehilangan tempat bernaung, berkebun dan melaut. Sebab, limbah berupa debu batu bara telah mengganggu proses kehidupan warga di wilayah tersebut.

Salah satu warga setempat, Siti Rugeya, mengeluhkan dampak buruk dari limbah debu batu bara, yang mengganggu aktivitas kehidupan mereka. Sebab, limbah debu batu bara, tiap detik terus bertebaran hingga masuk area pemukiman warga Ropa.

Bahkan, yang paling menyedihkan, Rugeya, menuturkan, tidak saja bertebaran di area pemukiman warga, tetapi limbah debu batu bara sampai mengendap di atas permukaan laut dan menghitamkan hasil lahan perkebunan milik warga Ropa.

“Ya, debu terbang sampai pemukiman dan ke laut. Kami disuruh pakai masker. Suami saya mau melaut harus cuci jala dahulu, karena kalau lepas, jalanya hitam semua, ikan tidak mungkin dapat,” ungkap Rugeya kepada wartawan di Ropa, Jumat (11/9/2020).

Ia mengaku, dampak buruk dari limbah debu batu bara tersebut sudah berlangsung lama. Menyebabkan lahan pertanian seperti tanaman jambu mete bahkan pepohonan di sekitar pantai, berubah warna menjadi hitam persis abu.

“Pohon jambu mete juga hitam semua. Ya, hasilnya juga berkurang,” sambung Rugeya.

Selain itu, Rugeya, menjelaskan, di wilayah pantai, pusat para nelayan mencari ikan, terlihat sangat hitam di dasar laut. Sebab, jarak PLTU hanya sekitar 50 meter ke bibir pantai.

“Ya, semua nelayan juga mengeluh begitu, termasuk suami saya, namanya Ali Baba. Setiap dua jam, harus cuci jala penangkap ikan, kalau tidak hitam semua. Debu hitam terbang ke laut juga, ya badan juga rasa gatal,” katanya.

Limbah Batu Bara, 3 Ribu Ton Per Tahun

Kepada wartawan, Jumat (11/9/2020), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ende, Abdul Haris Madjid, menerangkan, PLTU Ropa dalam sehari dapat menghasilkan tiga ton limbah. Artinya, jika dikalkulasi, dalam setahun, bisa menghasilkan 3 ribu ton.

Menurutnya, limbah batu bara termasuk sebagai bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia dan mahkluk hidup lainnya. Sementara, pengelolaan limbah batu bara telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101/2014 tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun.

Berdasarkan laporan yang diterima DLH, Haris, menjelaskan, pengangkutan limbah tersebut dilakukan satu tahun sekali. Sesuai laporan, PLTU Ropa terakhir mengangkut limbahnya pada Maret 2020.

Ia mengungkapkan, pihaknya telah mengidentifikasi beberapa keluhan masyarakat, termasuk keluhan pegawai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menyelam di perairan dekat kawasan PLTU tersebut.

“Mereka keluhkan ada rasa gatal di tangan setelah menyelam di sana. Kami sedang identifikasi,” katanya.

Haris, menjelaskan, pihaknya telah menemui otoritas PLTU Ropa, membahas dugaan pencemaran lingkungan dari aktivitas perusahaan tersebut, termasuk pengelolaan limbah batu bara dan pengukuran suhu air dari tabung perusahaan itu.

“Kalau suhu air dari mereka itu memang 30% lebih dari suhu air laut yang sebenarnya hanya 25%. Jadi, ada pengelolaan air, itu kolam yang persis di belakang dekat pantai,” katanya.

Mengenai keluhan masyarakat Ropa, Haris, berharap agar pihak perusahaan tersebut merespon secara baik. Bahkan, Ia mendorong agar adanya tanggung jawab sosial perusahan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahan tersebut kepada masyarakat.

Sementara, hingga berita ini diturunkan. Selama seminggu, terhitung dari Jumat (11/09/2020) sampai hari ini, Kamis (17/09/2020), Kepala Otoritas PLTU Ropa, tidak dapat ditemui wartawan.

Wartawan Dilarang Meliput

Minggu lalu, Jumat 11 September 2020, sejumlah wartawan dilarang menggali, mencari informasi dan menginvestigasi perusahaan tersebut, meski mengantongi id card pers. Bahkan, petugas meminta wartawan wajib menunjukkan surat tugas meski bertugas di wilayah Kabupaten Ende.

Karena tidak berhasil mengkonfirmasi otoritas perusahaan tersebut, para wartawan akhirnya menelusuri informasi atau keluhan warga sekitar di wilayah pantai yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari perusahan listrik tersebut.

Ternyata, sejumlah wartawan menemukan keanehan bahwa kawasan pantai penuh limbah debu batu bara. Pasir putih di kawasan itu ditutup debu hitam, termasuk di permukaan air kolam dan pepohonan sekitar area perkebunan dan pertanian warga.

Selain itu, selama di sana, kawasannya pun terasa sangat panas tak seperti biasanya di kawasan pantai lainnya di wilayah utara. Seperti adanya rasa sesak napas ketika berada di kawasan itu.

Sepuluh meter dari bibir pantai, terdapat sebuah kolam. Air kolam itu tampak hitam kekuningan. Begitu pula debu hitam, juga melekat pada tumbuhan di bibir pantai kawasan PLTU tersebut. (ral)

Artikel ini telah dibaca 168 kali

Baca Lainnya
x