Nasional News

Senin, 15 Mei 2017 - 02:22 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Romo PC. Siswantoko,  Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian KWI. (Foto: TeamYPF)

Romo PC. Siswantoko, Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian KWI. (Foto: TeamYPF)

Semangat Keindonesiaan Kian Memudar? Ini Tanggapan Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian KWI.

Jakarta, floreseditorial.com- Pasca vonis dua tahun yang diterima oleh Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dalam kasus penistaan Agama, berdampak pada aksi Bela NKRI yang diselenggarakan diseluruh pelosok negeri.
Bukan hanya itu aksi itu juga sudah meluas sampai ke mancanegara, seperti Australia, Amerika, jerman, Austria, Belanda.

Beberagam keritikan terhadap sistem hukum di Indonesia disuarakan oleh badan dunia seperti PBB, selain itu pernyataan sikap dan komitmen terhadap matinya keadilan juga  disuarakan oleh seluruh masyarakat dari pelosok negeri.

Aksi 1000 Lilin, Ratusan Warga Mbay Padati Kantor Bupati Nagekeo

Hal serupa juga dilakukan oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), dalam wawancara eksklusif dengan Romo PC. Siswantoko selaku Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian KWI, Romo Siswantoko kepada wartawan YPF  menuturkan akhir-akhir ini yang sring muncul adalah isu sektarianisme.

Loading...

“Baik itu agama maupun suku yang tidak terlepas dari konteks dinamika politik yang terjadi,” ucap Romo PC. Siswantoko ketika dihubungi melalui sambungan telepon minggu (14/5) malam.

Supaya hal ini tidak berkelanjutan,  kata dia, maka diperlukan kesadaran bersama, kesadaran akan keadaan bangsa yang sudah selayaknya dan sebaiknya hidup

Dalam surat pernyataan sikap yang diterima media ini Minggu (14/5) malam, KWI menilai akhir-akhir ini kehidupan berbangsa sedang terkoyak dengan munculnya isu-isu radikalisme, sektarianisme dan kepentingan politik jangka pendek.

“Masyarakat yang masih belajar hidup berdemokrasi dengan mudah digiring masuk dalam sekat-sekat agama, etnis, dan aliran politik yang berbeda-beda. Relasi sosial terpecah, kebersamaan sebagai sesama warga bangsa renggang, gelombang demonstrasi dan gejolak sosial datang silih berganti,”demikian isi tulisan pembuka surat tersebut.

KWI juga menilai belakangan energi bangsa ini terkuras habis untuk menyatukan dan menguatkan semangat keindonesiaan yang dari hari ke hari kian pudar. Berbagai kekawatiran akan masa depan Pancasila, kebinekaan dan NKRI kian membesar dan kegelisahan massal terasa di seantero negeri ini.

Dengan memperhatikan situasi yang amat memprihatinkan tersebut, dalam surat itu, maka Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Indonesia (KKP KWI) menyatakan sikap sebagai
Mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menengok sejarah dan belajar hidup berbangsa dengan para pendiri bangsa ini. Bangsa Indonesia diperjuangkan dan didirikan oleh tetesan darah dan pengorbanan jiwa para pahlawan dari berbagai agama, suku dan bahasa.

Pada poin berikutnya, KWI juga Mengutuk segala bentuk politisasi agama. Dinamika politik yang terjadi cenderung menggunakan agama sebagai sarana untuk mencapai tujuan politik jangka pendek.
Keagungan agama sebagai sumber kedamaian dan ketentraman, inspirasi dan pencerahan dalam hidup, menurut KWI, telah tereduksi sebagai pengumpul suara dan legitimasi kekuasaan.

KWI juga mendesak kepada pemerintah untuk bertindak tegas terhadap semua pihak yang ditengarai akan merongrong Pancasila, kebinekaan, UUD 1945 dan memecah belah masyarakat dengan berbagai isu.
Pemerintah, menurut KWI, tidak boleh takut, apalagi kalah dengan kelompok-kelompok yang membawa ideologi, ajaran, dan doktrin yang bertujuan untuk menghancurkan bangsa ini.

Aksi 1000 Lilin untuk Ahok Juga Digelar di Borong Matim

KWI berharap kepada para penegak hukum agar mereka benar-benar menjaga independensi dan tidak terpengaruh dengan berbagai tekanan dalam memberikan rasa keadilan kepada masyarakat.

Keadilan, menurut KWI, bukan buah tekanan apalagi pesanan tetapi merupakan hak bagi semua warga negara, oleh karena itu para penegak hukum seperti polisi, hakim dan jaksa harus benar-benar berdiri di atas semua agama, suku, dan golongan.

“Penegak hukum yang tidak tahan tekanan hanya akan melahirkan ketidakadilan dan ketidakadilan akan melahirkan penderitaan bagi masyarakat dan tidak stabilnya kehidupan berbangsa dan bernegara,”demikian isi Pressed Release yang ditandatangani oleh Romo PC. Siswantoko selaku Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian KWI. (Anton-FE)

Artikel ini telah dibaca 485 kali

Baca Lainnya