Cheap NFL Jerseys From China Cheap Jerseys Wholesale Jerseys

News

Kamis, 10 September 2020 - 21:07 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Viktor Kebo Kaha, Ketua Forum Orang Muda Lewohedo sedang memfasilitasi anak-anak dalam FGD Workshop Isu Perlindungan Anak di Balai Desa Lewohedo, Rabu (9/9/2020). (Foto: Robert Nong Soni)

Viktor Kebo Kaha, Ketua Forum Orang Muda Lewohedo sedang memfasilitasi anak-anak dalam FGD Workshop Isu Perlindungan Anak di Balai Desa Lewohedo, Rabu (9/9/2020). (Foto: Robert Nong Soni)

Orang Tua dan Guru Masih Menjadi Aktor Kekerasan Terhadap Anak

Flores Timur, floreseditorial.com – Yayasan Flores Children Development (FREN) melaksanakan Workshop Isu Perlindungan Anak. Dimana melalui Forum Group Discussion (FGD) pada workshop tersebut, ditemukan simpul bahwa aktor yang sering melakukan tindakan kekerasan terhadap anak, didominasi oleh orang tua dan para guru sebagai orang terdekat anak. Kegiatan itu berlangsung di Balai Desa Lewohedo, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT, Rabu (9/9/2020).

Pimpinan Project (Pimpro) FREN Mitra ChildFund Internasional di Indonesia, Maria M Pelapadi, menguraikan, anak dan orang muda sangat penting dilibatkan dalam proses pendekatan akuntabilitas ramah anak untuk perlindungan anak. Hal tersebut merupakan salah satu cara efektif mencegah kekerasan, jika dilakukan bersama orang dewasa sebagai pemegang tanggung jawab utama dalam perlindungan anak.

“Anak dan orang muda yang cakap (percaya diri, diberi pengetahuan, aktif didengar pandangannya, serta terlibat aktif dalam usaha perlindungan anak) akan kurang beresiko mendapat kekerasan dan dapat menjadi agen perubahan (agent of change) serta katalis untuk berbagi pengetahuan dan kemampuannya kepada teman sebayanya,” urainya.

Duta Anak FREN, Kristin Oeleu, menceritakan, Ia sering mendapat tindakan kekerasan baik fisik maupun verbal dari guru dan orang tua.

“Saya dan teman-teman sering dipukul di sekolah karena tidak kerja Pekerjaan Rumah (PR). Datang terlambat, disiksa berlutut dan disuruh ambil air isi di bak toilet. Ada teman yang belum bayar uang sekolah, disuruh pulang ambil uang pada jam belajar. Di rumah, Mama sering maki dan bentak kami,” kisahnya.

Kepala Desa Lewohedo, Andreas Peni Ama Koten, memberikan apresiasi atas kehadiran Yayasan FREN di desanya. Ia berharap, melalui workshop tersebut, dapat memberi dampak baik bagi desanya kelak.

“Saya melihat, setelah adanya Undang-Undang Perlindungan Anak, kekerasan fisik terhadap anak mulai berkurang, tetapi kekerasan verbal justru semakin meningkat. Semoga kedepannya, dengan workshop ini, Lewohedo bisa menjadi Desa Ramah Anak,” ujar Kades Andreas.

Untuk diketahui, workshop yang digelar sehari itu melibatkan seluruh elemen masyarakat dan stakeholders desa seperti anak-anak, orang muda, Ibu Rumah Tangga (IRT), kader posyandu, pemerintah desa, BPD dan tokoh pendidik. (rns)

Artikel ini telah dibaca 410 kali

Baca Lainnya
x