Cheap NFL Jerseys From China Cheap Jerseys Wholesale Jerseys

News

Sabtu, 12 September 2020 - 14:58 WIB

1 minggu yang lalu

logo

Benediktus Medo Belang, penyandang disabilitas, siswa kelas dua SDI Lewograran, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), (Foto: Robert Nong Soni)

Benediktus Medo Belang, penyandang disabilitas, siswa kelas dua SDI Lewograran, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), (Foto: Robert Nong Soni)

Perjuangan Beny, Penyandang Disabilitas yang Tetap Semangat ke Sekolah

Flores Timur, floreseditorial.com – Benediktus Medo Belang (Beny), penyandang disabilitas, siswa kelas dua SDI Lewograran, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kesulitan ke sekolah karena medan yang harus dilalui terjal dan menanjak, dengan jarak tempuh 500 meter dari rumahnya di RT.14/RW.7, Dusun Lewun, Desa Lewograran.

Yosef Belang dan Maria Uran, orang tua Beny, setiap hari mengantar dan menggendong, Beny, ke sekolah. Teman-teman, Beny, pun sering menggendongnya ketika pulang sekolah.

Risky, salah satu teman, Beny, mengaku senang berteman dan selalu menolong, Beny, ketika dibutuhkan.

“Saya dan Viky, senang sekali dongko (gendong, red) Beny. Dia lucu dan buat kami semangat,” ungkap Risky polos.

Keluarga dan masyarakat di tempat tinggal, Beny, sering memberi saran agar Ia masuk Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Namun, hal itu tidak dihiraukan oleh orang tua, Beny.

Kepala SDI Lowograran, Markus Soge, S.pd, ketika ditemui floreseditorial.com, Jumat (11/9/2020), mengatakan, pihaknya telah memberikan bantuan kepada, Beny, dalam bentuk kursi roda.

Menurutnya, pemberian bantuan itu sesuai Petunjuk Teknis (Juknis) Penggunaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun Anggaran 2020, yang menyatakan pemberian bantuan kepada siswa berkebutuhan khusus.

“Anak ini hanya cacat fisik. Mental dan semangat belajarnya lebih bagus dari anak yang normal. Ia terlihat tidak pernah merasa ada yang kurang dalam dirinya, karena teman-teman di sekolah ini pun senang bersamanya. Kalau sekolah di SDLB, kecuali dirinya memiliki cacat mental,” ujar Markus.

Orang tua, Beny, mengaku sangat bahagia dan berterima kasih karena pihak sekolah sangat peduli dan memperhatikan kebutuhan anak mereka.

“Saya dan keluarga sangat bahagia dapat bantuan kursi roda dari pihak sekolah. Saya dan suami tak pernah menyangka kalau sekolah bisa pikirkan kebutuhan anak kami. Terima kasih banyak,” ungkap Maria, Ibu dari Beny.

Sementara, Beny, yang memiliki semangat tinggi untuk belajar itu, tidak ingin diperlakukan istimewa. Ia merasa tidak nyaman ketika diperlakukan khusus oleh pihak sekolah. (rns)

Artikel ini telah dibaca 231 kali

Baca Lainnya
x