Wae Musur Dan Diskriminasi Pembangunan

- Selasa, 31 Januari 2017 | 10:01 WIB

Oleh : Theodorus Pamput
(Aktivis Gerakan Pemuda Wae Musur Bersatu/GardaMutu)

Jika elit-elit politik dan elit-elit pemerintah khususnya di Manggarai Timur, umumnya Nusa Tenggara Timur begitu getol, semangat dan ngotot menyuarakan pembangunan beberapa jembatan Wae Bobo di kecamatan Borong itu, kini kegetolan, semangat, dan kengototan yang sama juga harus dilakukan untuk memperjuangkan Jembatan Wae Musur

Jika hujan turun, kondisi badan jalan seperti bubur, dengan batu-batu besar yang menyembul dari kubangan air. Jika panas, batu-batu besar seperti keluar dari perut bumi dan seakan-akan menghadang setiap kendaraan yang lewat. Kondisi ini semakin diperparah karena tidak adanya jembatan penghubung ibu kota Manggarai Timur dengan tiga desa sebelah Wae Musur hilir.

Jika menuju ke Desa Beangencung,Desa Lidi dan Desa Satar Lenda,Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur itu seakan-akan seperti "pintu gerbang kematian". Sebab, setiap orang yang melalui jalan tesebut pasti dihantui rasa cemas akan keselamatan dirinya. Untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, banyak penumpang yang memilih turun dari truck kayu dan sepeda motor berjalan menyisir jalanan berbatuan dan becek, serta melawan arus sungai Wae Musur. Padahal, kalau pun berjalan, keselamatannya juga belum tentu terjamin karena sewaktu-waktu  bisa saja diseret derasnya arus sungai Wae Musur. Rasa cemas itu akan muncul ketika musim hujan tiba.

Diskriminasi pembangunan

Kondisi Jembatan Wae Musur hilir yang sudah menahun membuat kita berasumsi bahwa sudah ada unsur pembiaran di sana. Fakta ini juga memberi indikasi adanya diskriminasi pembangunan di Daerah ini. Sulit membantah asumsi ini. Maraknya Pembangunan beberapa jembatan Wae Bobo yang tidak memakan waktu lama dan menelan anggaran Milyaran rupiah merupakan bukti.

Semua itu akan meninggalkan sakit hati jika kita melihat apa yang terjadi hari ini di Wae Musur, kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur. Kondisi Sungai yang lebar yang katanya memakan biaya besar justru dijadikan kambing hitam dan alasan bahwa jembatan tersebut tidak bisa dibangun.

Konsepsi pembangunan Manggarai Timur adalah "Cengka Ciko". Secara harafia "Cengka" artinya "Buka", dan "Ciko" artinya "isolasi"/Daerah yang terisolasi jadi, "Cengka Ciko" merupakan membuka keterisolasian. Bukankah Wae musur hilir merupakan daerah yang terisolasi di Manggarai Timur ?,. "Desa adalah rahim pembangunan", begitu kata Bupati Manggarai Timur pada Program Iklan layanan Masyrakat Radio Kabupaen Manggarai Timur, Begitu getol dan sangat sering Sang Bupati menyampaikan itu, akan tetapi apa daya tiga desa sebelah Wae musur hilir tidak dirawat layaknya "rahim".

Jika elit-elit politik dan elit-elit pemerintah khususnya di Manggarai Timur, umumnya Nusa Tenggara Timur begitu getol, semangat dan ngotot menyuarakan pembangunan beberapa jembatan Wae Bobo di kecamatan Borong itu, kini kegetolan, semangat, dan kengototan yang sama juga harus dilakukan untuk memperjuangkan Jembatan Wae Musur. Sebab, pembangunan jembatan ini juga aspirasi rakyat hingga saat ini seperti janji yang tidak terpatri, yang terdepan justru dianggap sebagai halaman belakang, diurusnya paling belakangan alias tidak masuk dalam prioritas pembangunan.

Halaman:

Editor: Admin Flores Editorial

Tags

Terkini

Sekjen Partai Berkarya Tepis Kisruh Internal

Jumat, 12 Agustus 2022 | 15:47 WIB

Waspada!! Ada Gereja Sesat di Manggarai

Jumat, 12 Agustus 2022 | 11:43 WIB

Polisi Awasi Kawasan Monas Antisipasi Balapan Liar

Jumat, 12 Agustus 2022 | 10:09 WIB

Lemkapi Harapkan Polri Segera Berantas Judi Daring

Jumat, 12 Agustus 2022 | 09:40 WIB
X