SMPN-1 Wae Ri'i Berkerajinan Tangan Dari Bahan Lokal

- Rabu, 23 November 2016 | 07:48 WIB
Lantik Sembilan Kades di Lamba Leda Selatan, Bupati Matim Sentil Rencana Ibu Kota Kecamatan Lamba Leda Barat
Lantik Sembilan Kades di Lamba Leda Selatan, Bupati Matim Sentil Rencana Ibu Kota Kecamatan Lamba Leda Barat

Ruteng, FE. Kurikulum 2013 sangat dekat dengan hal-hal praktis. Semua teori pembelajaran lebih fokus dengan metode saintifik. Mengamati serta mempraktikan secara langsung apa yang mereka racik dalam setiap pengetahuan merupakan gambaran aplikasi kurikulum 2013. Aplikasi kurikulum 2013 kini mulai nampak dalam setiap bentuk kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik di sekolah-sekolah tertentu. Siswa-siswi SMP N 1 Wae Ri'i melakukan kegiatan  pengembangan mata pelajaran Prakarya di sekolah sebagai aplikasi atas kurikulum 2013, Rabu (23/11)

Kegiatan ini diprakarsai oleh guru mata pelajaran Prakarya sendiri bapak Erick Pery. Beliau meyakinkan bahwa kegiatan ini sebagai bentuk aplikasi praktis atas teori dan pengembangan kurikulum yang sedang berlaku. Ia mendorong anak-anak untuk mencoba menjadi pribadi yang kreatif, inovatif dan revolusioner. Kegiatan anak-anak ini sebagai contoh bahwa mereka adalah pribadi yang kreativ. Adanya mata pelajaran Prakarya di sekolah membuat anak-anak dituntut untuk lebih kreatif. Mereka berkreatif dengan bahan-bahan lokal seperti bambu dan lainya. "Prakrya merupakan pelajaran untuk mengubah siswa menjadi orang yang cekat, tepat dan cepat melakukan aktivitas kerajinan tanpa teknologi rekayasa”. Pungkas bapak Erick pery disela-sela kesibukanya waktu dihubung oleh media floreseditorial.com

Kegiatan Prakarya ini merupakan bentuk pelajaran baru yang berkembang sesuai kurikulum berlaku. Karena itu, kegiatan ini merupakan satu kesatuan dengan pelajaran biasa bukan sebuah kegiatan ekstrakulikuler, sehingga siswa-siswi sangat antusias dalam melakukannya. “Murid SMP Wae Ri’i melakukan kegiatan ini dengan semangat. Mereka memporsikan waktu mereka sangat efektif karena ini merupakan kegiatan pembelajaran bukan kegiatan di luar jam sekolah. Mereka paling suka dengan hal-hal praktis seperti itu. Bagi mereka berkarya dalam bentuk kerajinan tangan dengan bahan lokal merupakan bentuk kecintaan terhadap budaya Manggarai”. Tegas bapak Erick. Ada banyak hasil olahan siswa-siswi tersebut. Mereka menggunakan bahan-bahan lokal seperti kayu biasa dan bambu.

Lembaga pendidikan Sekolan Menengah Atas Wae Ri’i sangat mendukung dengan kegiatan yang dilakukan anak-anak tersebut. Kehadiran anak-anak dalam dunia pendidikan sekarang sangat bersifat konstuktif dalam meningkatkan kreativitas lokal. Lembaga sangat antusias dan mendukung dengan kegiatan anak-anak tersebut. Masyarakat sangat antusias melihat kerajinan anak-anak mereka. Mereka yakin bahwa masa depan budaya dan bangsa terus dilestarikan. Konstruksi karya mereka sangat bersifat sederhana tanpa memerlukan bahan-bahan dari tokoh.// HS. FE

Editor: Admin Flores Editorial

Tags

Terkini

4.642 Personel Gabungan Amankan Sidang Tahunan 2022

Selasa, 16 Agustus 2022 | 08:52 WIB
X