• Rabu, 29 Juni 2022

Pit Katas: "Agas Andreas Telah Mengkhianati Rakyat Manggarai Timur”

- Rabu, 22 Desember 2021 | 05:29 WIB
Pit Katas
Pit Katas

Borong, Floreseditorial.com - Polemik pergantian nama kecamatan di Kabupaten Manggarai Timur (Matim) rupanya berbuntut panjang. Pasalnya, perubahan nama kecamatan yang dikukuhkan melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2021 dan Perda Nomor 2 Tahun 2021 Tentang Perubahan Nama Kecamatan Poco Ranaka Menjadi Lamba Leda Selatan dan Poco Ranaka Timur Menjadi Lamba Leda Timur tidak urgen bahkan cenderung mempersulit masyarakat dengan persoalan administratif. Pit Katas, dalam keterangannya yang diperoleh media ini menjelaskan perubahan nama kecamatan tersebut tidak menguntungkan masyarakat. “Mestinya, Pemerintah memberikan terobosan baru untuk kesejahteraan masyarakat, karena yang dituntut masyarakat itu urgensi dibalik pergantian kecamatan baru tersebut,” kata pemilik nama lengkap Petrus Katas itu. Mantan kadis PUPR Matim itu berujar, Pemerintah harus menjelaskan urgensi pergantian nama kecamatan. “Namun saat ini pemerintah hanya merubah nama kecamatan dan masyarakat yang menjadi korbannya,” ujar Pit, Selasa (21/12/2021). Menurutnya, merubah kecamatan akan membutuhkan biaya yang sangat besar. “Belum lagi keluhan masyarakat mengurus administrasi KTP akibat perubahan kecamatan baru tersebut. Lalu urgensi apa? atau mungkin hanya untuk kepentingan sesaat yang pada akhirnya masyarakat jadi korban,” ungkapnya Ia menilai, kebijakan pergantian nama kecamatan telah menciderai dan melukai hati masyarakat. “Andreas Agas telah mengkhianati rakyat Manggarai Timur,” tukasnya. Sebelumnya, protes terkait pergantian nama kecamatan ini juga disampaikan oleh tokoh masyarakat keturunan kedaluan Riwu,. Mereka bahkan menyebutkan, Agas Andreas, telah melecehkan turunan Riwu, pasca perubahan nama kecamatan Poco Ranaka dan Kecamatan Poco Ranaka Timur menjadi kecamatan Lamba Leda Selatan. Menurut para tokoh masyarakat Riwu, perubahan nomenklatur Kecamatan Poco Ranaka dan Poco Ranaka Timur menjadi Kecamatan Lamba Leda Selatan dan Lamba Leda Timur, adalah upaya memanipulasi sejarah. “Kami menilai, proses Perubahan Nama Kecamatan telah mengabaikan eksistensi wilayah kekuasaan Kedaluan Riwu di Wilayah Kecamatan Poco Ranaka,” kata Belasius Jabur, turunan kedaluan Riwu saat menggelar konferensi pers, di Cafe 33, Borong, Sabtu (06/11/2021) lalu. Menurutnya, hal ini merupakan tindakan main hakim sendiri atau disebut Eigenrichting dan menciderai budaya Lonto Leok (musyawarah) dalam budaya Manggarai. Menurutnya, pembentukan kecamatan Lamba Leda Selatan, seolah-olah menegaskan bahwa wilayah Kecamatan Poco Ranaka sepenuhnya wilayah kedaluan Lamba Leda. “Sementara faktanya, ada wilayah kekuasaan kedaluan Riwu di dalamnya, sehingga kebijakan mengganti nomenklatur Kecamatan tidak tepat dan cendrung manipulatif,” katanya. Ia menambahkan, Bupati harus menyadari bahwa pilihan nama "Poco Ranaka" pada waktu itu oleh Tokoh Masyarakat di wilayah ini adalah pilihan yang tepat setelah melalui pertimbangan sosial budaya dan sejarah karena di wilayah ini, karena terdapat 3 kedaluan yatu Kedaluan Lamba Leda, Riwu dan Congkar, sehingga pilihan tersebut menjadi jalan tengah untuk menghindari klaim dan ego masing-masing kedaluan. “Sejak ide dan wacana perubahan nama Kecamatan Poco Ranaka menjadi Lamba Leda Selatan, kami Keturunan Dalu Riwu dan tokoh masyarakat Riwu tidak pernah diundang oleh Bupati Manggarai Timur untuk duduk bersama lonto leok sebagai forum demokrasi yang tertinggi di Masyarakat Manggarai. Bupati Manggarai Timur harusnya memahami dan menyadari keseluruhan proses ini sebagai penghargaan terhadap sejarah dan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur orang Manggarai," katanya. Kebijakan perubahan nama Kecamatan ini, katanya lebih lanjut, telah menyinggung dan menciderai perasaan keturunan orang Riwu yang memahami dengan benar sejarah kekuasaan kedaluan riwu bagian utara, bahwa kekuasaan Kedaluan Riwu dan Lamba Leda melalui kesepakatan antara Empo Manang (Riwu) dan Empo Tumpung (Lamba Leda). Sementara, Petrus Katas, Tokoh Riwu lainnya menjelaskan, berdasarkan dokumen sejarah yang disimpan Kedaluan Riwu bahwa batas wilayah Kedaluan/Hamente Riwu bagian utara mencakup 6 Desa/Kelurahan (keadaan saat ini) di wilayah Kecamatan Poco Ranaka dan Poco Ranaka Timur Secara Kedaluan Hamente termasuk kampung dari Bupati Manggarai Timur masuk kedalam wilayah Kekuasaan Kedaluan Riwu. "Oleh karena itu untuk meluruskan sejarah Kedaluan Riwu dan menghindari terjadinya manipulasi terhadap sejarah yang diwariskan oleh leluhur maka kami keturunan Dalu Riwu dan tokoh masyarakat Riwu menyimpulkan, Kebijakan perubahan nomenklatur Kecamatan Poco Ranaka dan Poco Ranaka Timur menjadi Kecamatan Lamba Leda Selatan dan Lamba Leda Timur yang tidak mempertimbangkan sejarah kekuasaan Kedaluan Riwu, Congkar dan Lamba Leda di wilayah ini harus dicabut. "Pemberian nama Kecamatan Poco Ranaka bukan cuma sebuah nama, tetapi roh dan jiwa 3 wilayah Kedaluan Kerajaan Swapraja Manggarai yaitu Kedaluan Riwu, Kedaluan Congkar dan termasuk di dalamnya Kedaluan Lamba Leda," tambahnya. Kata dia, pemberian nama Lamba Leda bukan hanya sekedar nama, tetapi para leluhur telah membentangkan wilayah kedaluan dengan batas-batas Sosial budaya, ekonomi, politik, hukum dan sejarah melalui pertumpahan darah. Kebijakan Bupati merubah nama Kecamatan Poco Ranaka menjadi Lamba Leda Selatan adalah bentuk/type pemimpin yang otoriter dan sekaligus mengkebiri wilayah Kedaluan Riwu dan kedaluan Congkar yang masuk di Kecamatan Lamba Selatan dan Lamba Leda Timur. "Maka kami atas nama Keturunan Dalu dan Tokoh Masyarakat Riwu menolak merubah nomenklatur nama kecamatan baru untuk kepentingan sesaat, tanpa sosialisasi yang intens di beberapa kecamatan wilayah 3 kedaluan tersebut,” kata Ketua Tim pemenangan paket ASET (Agas Andreas - Jaghur Stefanus) saat pilkada beberapa waktu lalu. Sementara Geradus Ukul, menjelaskan, keturunan Dalu Riwu, Tokoh Riwu dan masyarakat Riwu akan tetap dan selalu menjaga hubungan baik sebagai Ase kae keturunan Dalu Lamba Leda. "Tokoh Lamba Leda dan Masyarakat Lamba Leda Mari kita tetap menjaga hubungan ini dengan baik dan jangan mudah terprovokasi dengan berbagai pernyataan yang menyesatkan serta mengaburkan fakta sejarah hubungan ase kae yang telah diwariskan oleh Empo Manang dan Empo Tumpung," kata Mantan Camat Borong itu. Sementara Vinsen Aliman, menjelaskan para keturunan Dalu Riwu dan tokoh masyarakat Riwu tengah berusaha untuk meluruskan sejarah yang sudah dijaga dengan baik oleh para leluhur dan keturunannya. "Kepentingan kami adalah menjaga dan mempertahankan sejarah yang telah diwariskan ini agar tidak dimanipulasi oleh oknum tertentu untuk kepentingan sesaat dan tetap menjaga sejarah yang telah diwariskan oleh leluhur. Menurutnya, keturunan Dalu Riwu dan Tokoh Masyarakat Riwu meminta kepada Bupati Manggarai Timur untuk mencabut Perda yang menetapkan perubahan nomenklatur Kecamatan Poco Ranaka menjadi Lamba Leda Selatan dan Poco Ranaka Timur menjadi Lamba Leda Timur," tukasnya. (FEC/Red)

Editor: Admin Flores Editorial

Tags

Terkini

Petinju Asal NTT Menang di Arab Saudi

Selasa, 28 Juni 2022 | 14:05 WIB

Puluhan Remaja Afrika Selatan Tewas di Klub Malam

Selasa, 28 Juni 2022 | 10:10 WIB

Apa Saja yang Dibahas dalam KTT G7 di Jerman?

Senin, 27 Juni 2022 | 13:15 WIB

Presiden Jokowi dan Ibu Negara Tiba di Jerman

Senin, 27 Juni 2022 | 12:03 WIB
X