• Jumat, 27 Mei 2022

Stefanus Gandi: Kabupaten Ngada Menjadi Role Model Pertanian di NTT

- Jumat, 21 Januari 2022 | 13:25 WIB
IMG-20220121-WA0031
IMG-20220121-WA0031

Ngada, Floreseditorial.com -- Direktur Utama Stefanus Gandi (SG) Institute menilai Kabupaten Ngada sebagai role model pertanian integrasi di NTT. "Kabupaten Ngada ini sebetulnya sudah menjadi role model pertanian terintegrasi dengan baik dan cukup maju di NTT. Di Manggarai Barat suplai sayur hewan ternak juga dari sini. Sampling atau manajemen pertanian sudah berjalan baik," ungkap Stefanus di Kampus STIPER Flores Bajawa, Jumat ( 21/01/2022 ). "Saya tidak mengurangi nilai kesuksesan di Manggarai Raya. Tetapi harus fair. Manggarai Raya masih mengalami keterbelakangan dalam manajemen pertanian. Intervensi pemerintah sangat kecil dan ini berbanding terbalik dengan Bajawa," ungkapnya.

Digitaliasi Dunia Pertanian

Stefan juga menjelaskan pentingnya menerapkan digitalisasi pertanian di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian. "Digitalisasi pertanian itu sebetulnya sederhana ketika kita menggunakan handphone. Berbagai macam aplikasi yang sudah terkoneksi dengan data dan kalau di kota-kota besar kita bisa menjual hasil pertanian kita menggunakan aplikasi tersebut," ujar Stefan. Hadirnya aplikasi yang ada di handphone itu, lanjut Stefan bisa menggantikan peran manusia dalam menjalankan bisnis secara digital. "Kalau di kota-kota besar itu dimanfaatkan sedemikian besar hadirnya aplikasi atau platform online tetapi kalau kita yang ada di Flores saya lihat kreativitas kita belum percaya diri untuk memanfaatkan aplikasi atau platform online tersebut," lanjutnya. Sementara itu Ketua Sekolah Tinggi Pertanian Flores-Bajawa (STIPER-FB) Nikolaus Noiwuli, S.Pt, M.Si mengucapkan terima kasih atas kunjungan dari SG Institute, Harian Tani dan juga Parennial Institute. "momen ini sesungguhnya sangat membanggakan kami sebagai lembaga pendidikan pertanian yang ada di Bajawa ini," ungkapnya. Nikolaus menjelaskan, era globalisasi sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia. menjadikan media sosial untuk bersenang-senang yang mengakibatkan kaum mudah tidak produktif. "Pada era globalisasi ini sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia dan menjadikan sosial media sebagai wahana untuk bersenang-senang dan menjadikan mereka tidak produktif salah satu penyebabnya adalah SDM literasi kaum muda sangat berkurang. Budaya baca buku mahasiswa itu sangat berkurang apalagi masyarakat dan ini sangat berbeda kalau di negara maju seperti Jepang itu tidur sambil berpikir hasil membaca kalau kita di Indonesia membaca sambil tidur nah membaca ini ini obat untuk tidur," pungkas Nikolaus. Ia pun berharap kegiatan ini dapat meningkatkan literasi seetiap kalangan baik kaum terpelajar maupun masyarakat umum. "Semoga  penggiat literasi dan pencinta dunia pertanian dan bisa berkolaborasi bersama demi membangun bangsa kita ini", harap Nikolaus. Laporan: Roby Editor: Waldus Budiman

Editor: Admin Flores Editorial

Tags

Terkini

Jerman Longgarkan Aturan Masuk Terkait COVID-19

Kamis, 26 Mei 2022 | 06:00 WIB

Konvoi Pembalap Formula E Di Monas Dibatalkan

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:00 WIB
X