• Sabtu, 2 Juli 2022

Istri yang Lahiran, Kenapa Suami Harus Cuti 40 Hari? Begini Menurut BKKBN

- Rabu, 22 Juni 2022 | 10:50 WIB
Ilustrasi hamil. Nasib tragis harus dialami seorang warga negara asing atau kerap disebut bule di Bali baru-baru ini, ia ditinggal usai hamil.  (Pixabay)
Ilustrasi hamil. Nasib tragis harus dialami seorang warga negara asing atau kerap disebut bule di Bali baru-baru ini, ia ditinggal usai hamil. (Pixabay)

 

 

 

 

Floreseditorial.com - DPR menyepakati Rancangan Undang-Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak (RUU KIA) untuk dibahas lebih lanjut menjadi undang-undang. DPR turut menginisiasi cuti 40 hari bagi suami yang istrinya melahirkan dalam RUU tersebut.

Mengomentari hal ini, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo, SpOG menjelaskan pentingnya peran suami dalam menemani istri sebelum dan sesudah waktu melahirkan.

"Perempuan yang melahirkan ini memang butuh keluarga siaga, paling tidak sebelum hari kelahiran siaga seminggu sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL). Artinya apa? ada tanda tanda melahirkan, ada kontraksi harus siaga. Kan bisa pas jam kantor dan jam tidak libur. Jadi keluarga siaga terutama suami," ujarnya dalam perbincangan virtual, Selasa (21/6/2022).

Baca Juga: Indonesia Jadi Tuan Rumah Pertemuan Tingkat Tinggi Bahas Disabilitas

Menurut Hasto, perempuan setelah melahirkan memiliki risiko stres yang cukup tinggi. Di sini peran suami dibutuhkan untuk menemani dan memberi kenyamanan pada istri setelah melahirkan.

"Setelah melahirkan perempuan ada dampak stressor sendiri, ada gangguan psikologis pasca melahirkan. Bisa nangis sendiri, bisa senyum sendiri. Seminggu sebelum dan dua minggu setelah melahirkan harus terlindungi, terayomi dia merasa tenang dengan keadaan didampingi suami," sambungnya.

Halaman:

Editor: FEC Media

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X