Warga NTT Dihebohkan Oleh Penemuan yang Diyakini Fosil Gajah Mada Kerajaan Majapahit

- Selasa, 27 September 2022 | 17:55 WIB
Tidak Banyak yang Tau, Ternyata Fosil Gajah Mada Ada di NTT
Tidak Banyak yang Tau, Ternyata Fosil Gajah Mada Ada di NTT

Kitab Pararaton menyebut kedua orang itu berwatak sama, yakni pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah, setia kepada tuannya, dan berperilaku seperti hewan gajah yang dapat mengadang semua penghalang.

Kata “gajah” mengacu pada hewan yang dalam mitologi Hindu dipercaya sebagai vahana (hewan tunggangan) Dewa Indra. Gajah milik Indra dinamai Airavata. Sementara “mada” dalam bahasa Jawa Kuno berarti ‘mabuk’. Maka, bisa dibayangkan jika seekor gajah tengah mabuk, ia akan berjalan seenaknya, beringas, dan menerabas segala rintangan. Sepertinya itu nama yang cocok dan sudah dipikirkan betul-betul sebelum diberikan kepada Gajah Mada.

3. Gajah Mada dan Pasukan Bhayangkara

Seperti kebiasaan masyarakat Hindu, seorang anak akan dilepas untuk berguru kira-kira 12 tahun lamanya. Setelah itu, ia akan mengabdikan dirinya untuk raja dan masyarakat.

Baca Juga: Transpuan Jadi Tersangka Kasus Penemuan Mayat di Apartemen Jaksel

Gajah Mada yang sudah dibekali ilmu kewiraan bertugas dalam satuan khusus pengawal raja. Pasukan ini dinamai Bhayangkara, dari bahasa Sansekerta yang berarti “hebat dan menakutkan”.

Istilah itu termaktub dalam dua kata Jawa kuno, yakni bhaya yang berarti ‘bahaya, atau berbahaya, menakutkan,’ sementara angkara dari kata ahangkara yang berarti ‘aku’ atau ‘kami’. Maka istilah bhayangkara dapat diartikan sebagai ‘kami [yang] menakutkan’.

Dalam pasukan Bhayangkara inilah pengabdian dan prestasi Gajah Mada dibangun untuk menjaga Kerajaan Majapahit. Pararaton menyebut Gajah Mada mengiringi Raja Jayanegara mengungsi ke Desa Badander saat terjadi pemberontakan oleh Kuti. Menariknya, saat Jayanegara dibunuh oleh tabib Tanca, Gajah Mada diisukan mengatur pembunuhan itu.

Baca Juga: Kronologis Penemuan Jasad Siswa SMP Negeri 6 Poco Ranaka, Ditemukan Gantung Diri di Dalam Sebuah Pondok

Cerita sejarah menjelaskan dirinya tak sependapat dengan kelakuan Raja Jayanegara yang sudah melanggar perundang-undangan kerajaan lantaran menggauli perempuan yang sudah bersuami. Perbuatan itu dianggap suatu hal yang nista, karena dalam kitab Kutaramanawardharmasastra disebutkan hukuman bagi orang yang mengganggu perempuan yang telah bersuami dianggap kualat.***

Halaman:

Editor: Maria H.R Waju

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KIB Diyakini Segera Matangkan Capres-Cawapres

Selasa, 31 Januari 2023 | 21:19 WIB
X