Tak Berkategori

Minggu, 26 Mei 2019 - 15:23 WIB

6 bulan yang lalu

logo

Andreas Pareira Bersama Alm. Marsel YW Petu (Ist)

Andreas Pareira Bersama Alm. Marsel YW Petu (Ist)

Selamat Jalan “Bupati Pancasila, Bupati Rakyat Ende”

Kira-kira akhir Januari 2018, saya ditelepon Marsel Petu, Bupati Ende. Beliau menyampaikan akan ke Jakarta dan ingin bertemu untuk mengobrol beberapa hal. Saya langsung jawab: “silakan ka’e, kapan tiba di Jakarta, kontak saya, sehingga kita bertemu”.

Pertemuan berlangsung dua minggu kemudian, pertengahan Februari 2018, di ruangan kerja saya di kantor DPP PDI Perjuangan, Jln Diponegoro 58.

Dalam obrolan yang panjang, Marsel Petu menyampaikan obsesinya untuk menjadikan Ende sebagai salah satu national heritage dan destinasi wisata ideologi Pancasila. Mengingat di Ende lah Bung Karno pernah dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda, bertemu, bergaul, berdialog dengan masyarakat, berdiskusi dan berolah pikir dengan para misionaris Katolik yang bekerja di Ende. Sehingga Ende merupakan salah satu “stepping stone” lahirnya Pancasila. Di Ende lah Bung Karno mulai menggali dan menemukan ide Ke-bhinekaan untuk philosphi hidup ber bangsa dan bernegara, sebagai cikal bakal lahirnya Pancasila.

Marsel menjelaskan banyak hal yang menyangkut paket rencana untuk menjadikan Ende sebagai Kota Pancasila, termasuk rencana beliau untuk membangun patung lambang negara burung Garuda di atas puncak Gunung Meja. Marsel juga menjelaskan tekadnya untuk melakukan upacara dan parade Pancasila secara besar-besaran di setiap tanggal 1 Juni, dan menjadikan itu sebagai agenda nasional yang dilaksanakan di Ende.

Saya menyimak pembicaraan Bupati Ende ini dengan kagum karena pengetahuan dan pemahaman dan upaya pengamalannya terhadap Pancasila, yang mungkin tidak banyak lagi dimiliki oleh banyak orang termasuk oleh pemimpin maupun pejabat-pejabat kita saat ini.

Di akhir diskusi kami, Marsel Petu sambil senyum menyampaikan ke saya: “Pak Andre, baju saya memang kuning, tapi darah saya merah”. Marsel Petu juga menyampaikan ke saya, beliau ingin kembali maju untuk pencalonan bupati periode jabatan 2019-2024, dan secara khusus menyampaikan keinginan untuk didukung oleh PDI Perjuangan. Tanpa ragu, saya jawab: “kita akan maju bersama, PG dan PDI Perjuangan akan menjadi pilar utama pendukung Marsel-Jafar”. Kita semua tahu, Marsel-Jafar akhirnya maju lalu terpilih kembali dan baru awal April 2019 dilantik untuk mengemban jabatan bupati/wakil bupati periode 2019-24.

Keterpilihan Marsel-Jafar dengan kemenangan yang cukup telak membuktikan betapa rakyat mencintai bupatinya yang pekerja keras dan penuh dengan ide progresif. Ende lima tahun dibawah kepemimpinan Marsel-Jafar telah menorehkan banyak prestasi-prestasi riil, sebagai kabupaten dengan perencanaan pembangunan terbaik tingkat propinsi dan salah satu yg terbaik tingkat nasional. Ende pun telah membuka diri dalam hal jalur transportasi niaga laut maupun udara, sehingga menjadi salah satu pintu gerbang utama transportasi manusia dan barang dari dan ke Flores. Sehingga kota Ende dalam beberapa tahun terakhir menjadi lebih sibuk baik siang maupun malam. Ende telah menjadi kota kecil yang hidup 24 jam.

Dalam beberapa acara kunjungan kemasyarakatan, saya sempat bersama dengan sang bupati Pancasila ini. Betapa dalam pidato-pidatonya, Marsel selalu muncul dengan narasi kerakyatan, ungkapan bahasa kultural merupakan retorika2 yang menyentuh dan memotivasi rakyat untuk kerja dan menjadi lebih maju. Rakyat mencintai sang bupati Pancasila yang merakyat ini. Di massa kepemimpinan beliau yg meskipun singkat telah meletakan dasar2-dasar pembangunan menuju Kabupaten Ende yang Sare Pawe.

Selamat jalan Ka’e Marsel, selamat jalan Bupati Pancasila yang merakyat.

Andreas Pareira

Artikel ini telah dibaca 1904 kali

Baca Lainnya
x