News Pendidikan

Kamis, 30 Mei 2019 - 10:07 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo (Ist)

Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo (Ist)

SMPN 3 Waigete Segera Punya Gedung Permanen Yang Layak

Floreseditorial.com, Maumere – Dalam waktu dekat, Pemerintah Kabupaten Sikka segera membangun gedung Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Waigete, yang berlokasi di Kampung Klahit, Dusun Klo’ang Aur, Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka. Gedung sekolah tersebut rusak berat akibat bencana hujan dan angin kencang pada Kamis, 14 Februari 2019.

“Anggarannya sudah ada. Gambar bangunannya pun sudah rampung. Konsultan perencana pembangunan juga sudah turun ke lokasi untuk memeriksa tempat di mana gedung sekolah akan dibangun. Saya sudah tegaskan, SMPN 3 Waigete ini menjadi prioritas dan dibangun pada tahun 2019 ini,” jelas Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo.

Sementara Plt. Kadis Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Yosef Benyamin, menjelaskan bahwa pembangunan gedung sekolah tersebut terdiri atas 3 unit, yakni 2 unit ruang kelas dan 1 unit ruang guru. Baru bisa dibantu dibangun dua buah ruangan kelas karena SMPN 3 Waigete baru punya kelas 7 dan kelas 8. Belum ada kelas 9.

Kata Benyamin, “Sumber dananya diperoleh dari usulan Dana Alokasi Khusus (DAK). Pada Dana DAK itu sudah dipastikan akan dibangun, untuk mendukung kegiatan belajar mengajar (KBM), yang sejak bencana pada 14 Februari 2019 lalu, proses KBM tersebut sangat terganggu.”

Dukungan Pemkab Sikka

Adapun SMPN 3 Waigete didirikan pada Juli 2017 oleh puluhan warga Desa Watudiran secara swadaya, dari bahan bahan lokal yakni berdinding bambu, beratap alang alang. dan dengan berbagai fasilitas serba darurat. Para gurunya diangkat sendiri oleh pantia pembangunan, dan semuanya guru honor. Tujuan pendirian sekolah itu, untuk meningkatkan mutu SDM anak anak, dan untuk menurunkan angka drop out (DO) SMP di kawasan tersebut.

Menurut Yosef Benyamin, sejak awal Pemerintah Kabupaten Sikka memberikan dukungannya, mulai dari bimbingan tentang tata cara mendirikan sekolah sesuai Permendikbud Nomor 36 Tahun 2014 hingga kiat-kiat manajemen pengelolaannya.

Sesuai wewenang yang diatur dalam Permendikbud No. 36/2014 tersebut, Bupati Sikka menyematkan status “Negeri” pada sekolah itu. Ini juga salah satu bukti kepedulian Pemkab Sikka. Status “Negeri” diberikan agar sekolah tersebut cepat memperoleh pengakuan secara nasional sebagai penyelenggara pendidikan dasar yang memperoleh berbagai fasilitas Negara: gedung yang permanen dan layak, berbagai sarana dan prasarana pendukung, sekaligus agar guru-gurunya memperoleh perhatian yang memadai, baik dari segi gaji maupun dari segi kapasitas keilmuannya.

Namun Pemerintah bisa bekerja maksimal jika pihak pendiri/pengelola juga bisa membantu dengan memenuhi berbagai persyaratan pendukungnnya, Misalnya SMPN 3 Waigete belum punya NIS (Nomor Induk Sekolah), karena belum memiliki dan/atau memenuhi sejumlah persyaratan.

Sayang sekali dalam usianya yang baru berjalan 17 bulan (sejak Juli 2017), sekolah yang baru memiliki 2 (dua) kelas vertikal, yakni kelas 7 dan kelas 8, dengan jumlah siswa sebanyak 76 orang itu roboh oleh bencana angin kencang.

Pemerintah Tidak Tutup Mata

Terhadap bangunan SMPN 3 Waigete yang diluluh-Iantakkan bencana itu, Pemerintah Kabupaten Sikka tidak pernah menutup mata, sebagaimana dituduhkan sejumlah media dan sejumlah warga.

Sejak dilaporkan oleh Camat Waigete pada Jumat, 15 Februari 2019, Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial telah turun ke lokasi dan memberikan berbagai bantuan penanganan darurat berupa tenda-tenda. Namun, jelaslah bahwa suasana pendidikan yang nyaman dan mengasyikkan tidak maksimal tercipta di dalam tenda, baik dalam kondisi hujan di awal tahun mapun di kondisi panas seperti saat ini.

Oleh karena itu, dengan berbagai cara dan upaya, Pemkab Sikka mencarikan solusi, terutama dengan menyiapkan anggaran yang memadai untuk membangun gedung sekolah yang layak.

Hal anggaran yang memadai selalu butuh waktu karena ada mekanismenya tersendiri. Untuk diketahui, anggaran di tahun 2019 telah dirancang sejak awal tahun 2018 dan ditetapkan pada 31 Desember 2018. Dalam APBD 2019 tidak ada dana pembangunan gedung SMPN 3 Waigete.

Dana yang ada adalah dana penanganan bencana, sehingga hanya dibangunkan tenda-tenda tersebut.

Sehingga untuk membangun gedung SMPN Waigete, Pemkab Sikka butuh waktu untuk memperjuangkannya. Perjuangan itu sekarang terjawab, yakni melalui Dana Alokasi Khusus. Jadi, sekali lagi. Pemkab Sikka tidak pernah menutup mata.

Waktu untuk Membangun

Saat ditanyai terkait waktu pembangunan, ia meminta masyarakat juga diminta untuk bersabar. karena proses pembangunan juga butuh waktu, sesuai kalender kerja proyek, sesuai aturan yang berlaku.

“Satu hal yang pasti adalah bahwa Pemerintah Kabupaten Sikka tetap menaruh kepedulian yang sangat besar untuk mencerdaskan kehidupan anak anak bangsa di semua pelosok Kabupaten Sikka, termasuk 76 anak di SMPN 3 Waigete, termasuk juga kualitas keguruan dan kuantitas pendapatan para pendidiknya,” tukasnya (NT)

Artikel ini telah dibaca 607 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya
x