News

Senin, 15 Juli 2019 - 19:28 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Rombongan tenaga kesehatan puskesmas Nangalili saat mendonasikan Bantuan pada Arsen, Disabilitas di Welak (Foto: TeamYPF/Edison Risal)

Rombongan tenaga kesehatan puskesmas Nangalili saat mendonasikan Bantuan pada Arsen, Disabilitas di Welak (Foto: TeamYPF/Edison Risal)

Tenaga Kesehatan Puskesmas Nangalili Beri Bantuan Pada Arsen, Penyandang Disabilitas di Welak

Floreseditorial.com-Labuan bajo, Rombongan perawat puskesmas Nangalili pada senin (15/7/2019) mendatangi kampung Benteng, desa Semang, kecamatan Welak untuk membawa donasi kepada salah satu pasien penyandang disablitas.

Diberitakan sebelumnya, keluarga Bertolomeus Mere, memiliki salah satu anggota keluarga yang mengalami kelainan fisik.

Dia adalah putra sulung sekaligus putra tunggal dari Bertolomeus Mere.

Arsenius Goo berusia 11 tahun. Sepanjang usianya itu pula dia mengalami kelainan fisik. Hingga saat ini belum ada bantuan dari pihak manapun.

Melihat kondisi Arsen yang “menggugah nurani”, Hans Jeragan berinisiatif menawarkan cerita keluarga Arsen ke teman-teman kerjanya di puskesmas Nangalili.

Singkat cerita, kisah arsen menggetarkan nurani para perawat di Puskesmas Nangalili dan berinisiatif untuk membantu.

“Awalnya, saya datang ke Semang untuk menjenguk keluarga. Setiba di kampung, saya mendengar cerita dari keluarga bahwa ada anak yang mengalami kelainan fisik”, ujar Hans.

Setelah itu dirinya bergegas mengunjungi rumah anak tersebut.

“Dan memang sungguh kasihan, Lalau saya coba cerita itu ke teman teman perawat di tempat saya bertugas, Puji Tuhan responnya baik sekali”, katanya.

Kunjungan tersebut, kata dia merupakan hasil dari pertemuan internal dan inisatiaf pribadi untuk menggalang dana.

“Adapun dana yang terkumpul secara sukarela itu sebesar Rp. 2.720.000,- Dana itu kami belikan beberapa perlengkapan untuk pasien, antara lain Bahan Makanan, Sayur sayuran, Susu, telur, sarung dan juga uang tunai sebesar Rp 1.650.000,00”, tukasnya.

Ade Bria, salah satu perawat di Nangalili, ketika dimintai infromasi soal perasaannya usai berpartisipasi dalam kegiatan itu menyatakan bahwa dirinya senang bisa terlibat dalam kegiatan sosial tersebut.

“Kepuasan ini tidak bisa diukur dengan apapun Kaka, karena kita bisa bantu orang tanpa ada tekanan dari orang kain. Itu ada kepuasan sendiri. Kami tidak bisa hanya diam saja, melihat ada saudara kita yang mengalami kesulitan, tetapi turut mengambil bagian dalam sejarah perjalanan hidup adek Arsen”, tutupnya.

Rombongan perawat Nangalili ini berharap agar pihak pemerintah desa dan instansi terkait bisa buka mata untuk memberikan sentuhan kepada saudara saudara yang alami kelainan fisik.

Laporan : Edison Risal

Artikel ini telah dibaca 1404 kali

Baca Lainnya