Featured NGADA Pendidikan

Jumat, 22 Mei 2020 - 19:37 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Sejumlah siswa SMPN 2 Bajawa sedang belajar di rumah seorang guru. (Foto: Martin Lusi)

Sejumlah siswa SMPN 2 Bajawa sedang belajar di rumah seorang guru. (Foto: Martin Lusi)

Banyak Siswa Tidak Miliki Perangkat Android

Floreseditorial.com, Bajawa – Ketentuan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang kebijakan belajar dari rumah atau Study From Home (SFH), berdampak pada pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS). Banyak siswa tidak miliki perangkat android, sehingga mereka tidak bisa melakukan UAS secara online.

Seperti pantauan floreseditorial.com, Jumat (22/5/2020) di Kampung Mari, Desa Bomari, Kecamatan Bajawa, sejumlah siswa kelas VII SMPN 2 Bajawa, mendatangi rumah guru untuk mendapatkan petunjuk belajar atau mengikuti UAS.

Teresia Laus, seorang guru setempat mengatakan, siswa dapat belajar di rumah masing-masing dan tidak perlu mendatangi rumah guru. Namun karena keterbatasan fasilitas, mereka datang ke rumah guru untuk belajar dan mendapatkan petunjuk terkait belajar dan UAS.

“Sebenarnya murid dapat belajar dan kerja tugas atau pun UAS di rumah masing-masing secara online, namun karena keterbatasan fasilitas, saya dampingi di rumah,” ujarnya. Ditambahkan, banyak kendala yang dihadapi oleh orang tua, selain tidak memiliki perangkat aplikasi android, juga membutuhkan paket data untuk internet. Untuk diketahui, Jumat 22 Mei 2020 merupakan hari ketiga pelaksanaan UAS bagi siswa kelas VII dan VIII.

Sedangkan Kepala Sekolah SMPK. St. Agustinus, Fransiskus Laja yang ditemui secara terpisah mengatakan, setiap sekolah punya otonomi sekolah masing-masing, sehingga untuk sekolah yang Ia pimpin baru akan melaksanakan UAS pada awal bulan Juni mendatang.

Namun Ia mengaku, pelaksanaan ujian akan dilakukan secara offline lantaran beberapa kendala yang dihadapi, seperti kekurangan atau keterbatasan fasilitas perangkat aplikasi android. Untuk itu, Ia mengaku akan memberikan teks soal ujian kepada siswa melalui guru-guru pendamping di setiap desa.

“Kami tidak menyelenggarakan UAS atau pun memberikan tugas kepada murid secara online, karena mempertimbangkan fasilitas yang belum memadai. Para murid akan dikirimkan teks dan mereka bisa bertemu langsung dengan guru pendamping,” jelasnya.

Sementara itu, di tempat terpisah, Pengawas Sekolah tingkat SMP bidang Psikologi dan Bimbingan Kabupaten Ngada, Mikael Dou mengatakan, semua kebijakan dari berbagai sekolah SMP di Kabupaten Ngada didasarkan pada kebijakan dan kearifan lokal di sekolah masing-masing. Hal ini menjadi pertimbangan dalam mendukung pemetaan mutu internal lembaga, yang dinilai pada guru dan murid itu sendiri.

“Kami sebagai pengawas sekolah bertugas dalam mengawasi, memantau, membina, membimbing, menilai dan evaluasi semua kinerja berdasarkan faktor internal dan ekternal. Sedangkan terkait segala kebijakan dari masing-masing sekolah, akan kita evaluasi bersama apabila pertimbangan tersebut cukup efektif dalam masa wabah covid-19 ini,” kata Mikael.

Penulis: Martin Lusi
Editor: Kornelius Rahalaka

Artikel ini telah dibaca 144 kali

Baca Lainnya
x