Opini

Kamis, 22 Agustus 2019 - 09:58 WIB

3 minggu yang lalu

logo

Aduh, Abdul Somad

Oleh : Rudi Haryatno

Beberapa hari belakangan, tepat saat sedang riuh rendah perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74, nama Ustad Abdul Somad ramai diperbincangkan dalam dunia maya – (selanjutnya saya sengaja tidak menyematkan panggilan ustad di depan namanya, bukan karena saya benci atau marah, tetapi hanya mau menunjukkan relasi setara sebagai ciptaan Tuhan antara saya dengan beliau). Namanya ramai disebut, disanjung juga serentak dihujat karena ucapannya perihal “salib” di hadapan umatnya. Dalam sebuah video yang ramai diunggah dalam media elektronik, seperti youtube dan facebook, sang Ustad memberikan pemahaman dangkal perihal salib, sebagai respon atas pertanyaan seorang umatnya.

“Apa sebabnya Ustad kalau saya menengok salib menggigil hati saya?” Bunyi pertanyaan umat kepadanya. Abdul Somad sontak mengeluarkan kata “setan” dalam merespon pertanyaan itu. Lanjutnya, “apa sebabnya ibu itu mebayangkan salib? Karena jin kafir sedang masuk, karena di salib itu ada jin kafir. Jin kafir itu ada karena ada patung.” Setidaknya seperti itu substansi jawaban Abdul Somad. Kemudian melompat pada penjelasan bahwa, lambang Palang Merah pada ambulance merupakan lambang kafir, karena itu dia menghimbau sebaiknya lambang itu dihapus, dan diganti dengan lambang bulan sabit.

Penulis, yang adalah seorang yang beragama Kristen Katolik, yang menyembah dan melihat salib sebagai lambang sakral keagamaan, tidak merasa jengkel atau marah, atau yah, tidak terprovokasi dengan ucapan Abdul Somad tersebut. Penulis hanya sebatas merasa prihatin dengannya. Prihatin karena Abdul Somad yang adalah public figur, punya jabatan terhormat dan terpandang dalam sebuah kelompok keagamaan, kok sepertinya belum dewasa dalam bertutur kata dan masih dangkal informasi tentang lambang ambulance. Mengapa saya katakan demikian?

Pertama, jika Abdul Somad benar-benar dewasa dalam bertutur kata, dia tahu apa yang mesti diucapkannya tentang lambang agama lain. Secara literer, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dewasa diartikan sebagai “sampai umur, akil balik, masa, waktu”. Dan secara psikologi, dewasa dipahami sebagai periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun dan berakhir pada usia tiga puluh tahun. Manusia yang sudah usia dewasa, mempunyai prilaku yang berbeda dengan kanak-kanak.

Pada masa kanak-kanak, manusia tentu belum dapat hidup dan berpikir mandiri, tidak dapat menentukan apa yang baik dan berguna untuk masa depannya. Masih bergantung pada tuntunan orang tua. Sementara, usia dewasa adalah usia dimana manusia dapat menentukan pilihan dan pikirannya sendiri, dan dapat membedakan mana yang seharusnya dilakukan atau diucapkan dan mana yang tidak. Saat masih masa kanak-kanak misalnya, seorang anak manusia tidak mengerti bahwa maki orang tua atau lempar orang dengan batu atau sendok saat makan adalah salah dan tidak benar secara moral. Sementara pada saat usia dewasa, orang mengerti dan tahu, bahwa maki orang tua atau melemparkan mereka dengan batu adalah tindakan yang tidak benar secara moral. Karena itu orang dewasa tidak memilih untuk melakukannya.

Nah, kembali kepada Abdul Somad yang mengatakan dalam ceramahnya, pada salib ada jin. Pernyataan Abdul Somad itu secara eksplisit menjelaskan kualitas kedewasaan kepribadiannya. Ok-lah dia sudah dewasa baik secara usia maupun secara religius, tetapi tingkah bicaranya belum menunjukkan kepribadian yang dewasa. Mengapa? Dia belum bisa membedakan mana yang seharusnya dan tidak seharusnya diungkapkan kepada agama lain yang berada di luar pemahamannya. Bagaimana seharusnya menjaga kata, agar tidak menyinggung dan merendahkan orang yang berkepercayaan lain? Ini seperti tingkah seorang anak kecil yang menangis meminta kepada ibunya untuk membelikan sesuatu yang tidak seharunya di tengah keramaian di pasar. Dia menangis tanpa memikirkan perasaan orang tuanya.

Kedangkalan Abdul Somad pada pemahaman tentang salib seharusnya tidak dijadikan sebagai bahan olokan terhadap simbol agama lain. Jika belum paham secara holistik, valid, dan meyakinkan tentang simbol kelompok agama lain, maka seyogyanya bertindak dewasa. Memilih untuk diam, atau paling kurang, belajar dan banyak bertanya kepada orang yang paham.
Kedua, Abdul Somad mempertontonkan kebodohannya kepada publik. Ok, kita mengakui Abdul Somad sebagai orang Indonesia lulusan universitas luar negeri, selesai S2 di Maroko. Namun, dia “picik” ilmu tentang lambang ambulance. Baginya, lambang palang merah pada ambulance merupakan lambang kafir. Karena itu, dia mengimbau kepada umat untuk menghapus lambang itu bila perlu, dan diganti dengan lambang Bulan Sabit. Sungguh, pada titik ini, saya prihatin dengan Abdul Somad. Dia bisa sebodoh itu? Atau mungkin dia sudah tahu, tetapi pura-pura tidak tahu. Terus, kenapa dia pura-pura tidak tahu? Apakah dia sengaja melempar api provokasi? Jawabannya, Abdul Somad sendiri yang tahu.

Lambang pada ambulance yang dipersoalkan Somad itu sebenarnya adalah lambang bendera negara Swiss. Bukan lambang salib yang disembah oleh umat Kristen. Ok-lah, bentuknya seperti salib, tetapi intensi penggunaan lambang itu pada ambulance, bukan untuk menunjukkan eksistensi sebuah agama, tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap sebuah negara yang berinisiasi membuka wawasan dunia tentang pentingnya “Perhatian Terhadap Korban Perang” (bdk. www.pmi.or.id)
Jadi, Abdul Somad yang mengajak “orang yang mempercayainya” untuk menghapus lambang Palang Merah pada ambulance, sama halnya tidak menghargai lambang kepedulian kemanusiaan itu. Sekali lagi, itu bukan lambang salib. Pemajangannya pada ambulance, bukan didorong oleh intensi memperkenalkan lambang Kristen. Sampai di sini, semoga Abdul Somad paham. Kalau tidak paham, yah, baca banyak dan cari informasi yang banyak. Jangan mempertontonkan kedangkalan.

Para pengguna media elektronik, sedang mendukung dan sekaligus menghukum Abdul Somad. Banyak orang yang ribut, mengucapkan argumen pro-kontra karena ucapan Abdul Somad. Dan sepertinya, negara sedikit riuh dengan kata-kata public figur ini. Berhadapan dengan fakta ini, jangan kita menghina dia. Jangan kita ribut gara-gara kedangkalan ini. Kita mesti melihat ini sebagai bagian dari ekspresi dan pertunjukkan perihal kedangkalan dan ketidakdewasaannya. Hanya ada satu pesan dari ceramah Abdul Somad yang viral itu, bahwa “ayo, mari kita jaga integrasi bangsa. Jangan terhanyut oleh kata-kata dangkal yang tidak konstruktif.”

Tinggal di Seminari Petrus van Diepen, Aimas, Sorong-Papua Barat

Artikel ini telah dibaca 304 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya