Opini

Jumat, 20 September 2019 - 13:19 WIB

10 bulan yang lalu

logo

Cerita Lisan Manggarai (Tombo Turuk) Sebagai Falsafah Hidup

Oleh: Hardy Sungkang

Berbicara tentang cerita lisan Manggarai (bahasa daerah; Tombo Turuk) seringkali menjadi obat yang bisa meninabobokan hati, apalagi kalau hal itu diceritakan pada waktu malam hari di atas kasur yang empuk. Kenyataan ini bukan menjadi ambivalensi atas esensi sebuah cerita, tetapi bagaimana cerita itu mengantar setiap pendengarnya menuju historiografi diri, in sen manusia itu sendiri dan juga alam semesta yang seringkali menjadi bagian terpenting dalam peristiwa tersebut.

Terkadang dewasa ini cerita lisan bukan lagi menjadi sebuah cerita yang biasa saja, tetapi menjadi sebuah aset budaya yang semestinya diwariskan dan terus dikembangkan. Kenyataan ini pun bukan tidak mungkin akan menjadi sebuah sumber narasi tentang sejauhmana kondisi hidup masyarakat kala itu. Karena itu, dalam ulasan sederhana ini penulis akan menyajikan sebuah tinjauan filosofis atas esensi dari cerita lisan budaya Manggarai.

Cerita Lisan dan Tantanganya

Cerita lisan atau seringkali disebut sebagai sastra lisan merupakan salah satu bentuk karya sastra ujaran (lisan). Sastra lisan seringkali berkutat pada fundamen sejarah yang validitas isinya masih terus menerus disangsikan. Sastra lisan atau cerita lisan tersebut pada hakekatnya membentuk suatu komponen budaya yang paling hakiki entitasnya. Dari semua komponen budaya tersebut, cendikiawan atau akademisi seringkali menganggap itu sebagai bagian utama dari sastra lisan. Dengan demikian, cerita lisan bisa diartikan sebagai sebuah peristiwa lisan manusia dan alam semesta serta isinya yang memiliki kandungan makna terdalam.

Pengakuan dari para akademisi terhadap fundamen budaya cerita lisan masih diperlemah oleh salah seorang cendikiawan Uganda, Pio Zirimu yang memperkenalkan kata orature untuk menghindari oksimoron, (majas yang menempatkan dua antonim dalam suatu hubungan sintaksis), namun sastra lisan (oral literature) masih sering digunakan dalam lingkup akademisi. Di sini terjadi sebuh antitesis antara pengakuan cerita lisan dan penolakan atasnya dalam lingkup akademisi. Karena itu, ketika cerita lisan yang kontenya masih melekat berisi tentang budaya harus secara legallitasnya perlu disepakati secara bersama. Hal ini tentunya bukan hanya menjadi sebuah wacana lisan tanpa makna, tetapi sebuah cerita lisan yang kandungan maknanya secara universal bisa ditemui perluasannya. (wikipedia.org)

Berdasarkan pemahaman di atas, penulis menyimpulkan bahwa cerita lisan merupakan suatu bentuk karya sastra yang secara legalitasnya masih diperdebatkan dalam tradisi akademisi. Hal tersebut bisa ditandai dengan pengakuan terhadap karya sastra lisan. Katakan saja pada dewasa ini, cerita lisan yang sedang trending di kalangan masyarakat adat adalah cerita rakyat yang begitu kaya makna dan beragam versi. Cerita rakyat tersebut seringkali masih pada taraf konsumsi hiburan belaka, baik kisah orang tua untuk meninabobokan anaknya pada malam hari, maupun sebagai sebuah referensi fundamental asal usul suatu tempat atau peristiwa di masyarakat.

Menyikapi kondisi pengakuan tersebut, maka penulis dalam uraian singkat in ingin mengetengahkan sejauh mana kita memahami cerita lisan sebagai sebuah cerita yang fundamen dalam setiap peristiwa hidup masyarakat budaya. Tujuanya adalah agar cerita rakyat (lisan) tersebut bisa diterima sebagai sebuah karya sastra yang secara esensialnya memiliki makna terdalam.

Cerita rakyat (lisan) pada takaran penulis saat ini adalah cerita rakyat budaya Manggarai (tombo turuk) yang pada pengembanganya seringkali hanya sebatas hiburan. Penulis menghendaki untuk menjadikan cerita rakyat Manggarai sebagai sebuah basis sejarah hidup atas peristiwa yang dilalui oleh masyarakat Manggarai. Artinya, makna terdalam atas suatu peritiwa hidup masyarakat Manggarai pasti memiliki warisan cerita lisan. Sehingga cerita lisan tersebut bisa diakui sebagai aspek historis terhadap asal usul sesuatu dalam catatan sejarah budaya Manggarai.

Secara filosofis kehidupan manusia di Manggarai pasti memiliki falsafah hidup yang secara substansialnya tidak bisa dipisahkan dari cerita sejarah budaya. Cerita budaya yang sungguh melekat relasi antara manusia dan alam semesta tersebut membuat segala sesuatu itu bersifat sakral. Kesakralan diri atas sebuah peristiwa sejarah juga tergantung cara manusia Manggarai memberikan respek atasnya. Karena itu, secara filosofis kehidupan orang Manggarai pasti memiliki dasar sejarah budaya yang tertuang dalam warisan cerita lisan (tombo turuk).

Tradisi warisan cerita lisan tersebut juga memiliki kandungan makna yang terdalam antara kehidupan manusia dengan isi alam semesta. Sehingga, tidak heran kalau dalam konteks budaya orang Manggarai ada sebuah istilah (regis) atau sensitif terhadap objek tertentu dalam kandungan alam semesta. Istilah (regis) pada hakekatnya adalah suatu bentuk larangan terhadap manusia untuk menunjukan dan mengambil serta menyebutkan binatang atau pohon atau batu tertentu. Tradisi ini sebetulnya lahir dari sebuah peristiwa budaya yang telah lama ada dalam cerita lisan Manggarai. Karena itu, penulis menginginkan kepada kita semua untuk bersama-sama mewarisi cerita lisan Manggarai dan secara perlahan kita suguhkan ke hadapan publik. Tentunya secara ilmiah seringkali sulit untuk ditemui maknanya. Namun, apabila kita meninjaunya dari sudut pandang filsafat, maka cerita lisan dapat menemukan dasar falsafah hidup manusia Manggarai yang berbudaya dan bersejarah

Penulis Adalah pecinta Sastra, Tinggal di Ruteng, Kabupaten Manggarai

Artikel ini telah dibaca 672 kali

Baca Lainnya
x