Oleh : Filmon Hasrin
Mahasiswa: STFK Ledalero

Secara sederhana keluarga adalah kelompok sosial yang terdiri dari dua atau lebih orang yang terikat karena hubungan darah, perkawinan, atau karena adopsi dan yang hidup bersama untuk periode waktu yang cukup lama. Keluarga dibagi lagi atas dua yakni keluarga inti dan keluarga luas. Keluarga inti terdiri dari orang tua dan anak (atau suami dan isteri). Keluarga inti dibagi lagi atas dua, yakni keluarga inti orientasi yang terdiri dari individu itu sendiri, orang tua, dan saudara-saudarinya, dan keluarga inti prokreasi yang terdiri dari individu itu sendiri, isteri/suami atau anak-anaknya, (Bernard Raho 2016). Keluarga juga merupakan tempat yang unggul, amat mendukung dan tak tergantikan bagi pengakuan dan perkembangan hidup personal dalam perjalanannya menuju martabat lengkap dan sebagai lembaga pertama perlindungan hak-hak anak. Maka orang tua memunyai tanggung jawab pertama untuk membesarkan dan mendidik anak-anak untuk menjamin perkembangan integral dan tingkat memadai kesejahteraan sosial, spiritual, moral, fisik, dan mental untuk mencapainya, (R. P. Piet Go, 2006).

Hal paling penting dalam keluarga adalah persaudaraan karena memang dilahirkan atas dasar cinta, persaudaraan itu mesti dijaga dan dirawat. Selain itu, keluarga diartikan sebagai tempat pertama belajar dan menerapkan nilai-nilai kehidupan sebelum dia eksis di tengah masyarakat. Misalnya menerapkan nilai saling menghargai satu sama lain termasuk menghargai alam ciptan, hospitalitas, gotong-royong, dan nilai kehidupan lainnya. Dan tentu saja ketika kita bicara tentang masyarakat damai, jelas berawal dari keluarga yang damai. Kekerasan yang terjadi di masyarakat justru berawal dari keluarga yang kurang mengamalkan nilai-nilai kehidupan sehingga melahirkan individu-individu penyebab konflik. Oleh karena itu, situasi damai harus dibangun terlebih dahulu dalam keluarga melalui dialog. Keluarga menjadi tempat unggul tak tergantikan bagi pengakuan perkembangan hidup personal yang damai.

Namun akhrir-akhir ini keluarga tidak lagi menjadi posisi penting dan sebagai sumber perdamaian karena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sering terjadi dan santer terdengar. Kesetiaan suami isteri untuk saling melindungi semakin kendor, begitupun perlindungan terhadap anak. Hubungan sedarah (persaudaraan) hanya sebagai lambang tanpa makna.

Konflik kekerasan dalam rumah tangga menjadi problem di seluruh Indonesia terkhusus di Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin meningkat, sebagaimana yang diberitakan di beberapa media, sebanyak 39 kasus Kekerasa Dalam Rumah Tangga terjadi di Manggarai Barat, (Flores Pos, Rabu, /6/02/2019). Pencabulan anak kandung, (Pos Kupang, Jumat, 22/02/2019). KDRT tertinggi di NTT adalah di Lembata, (Pos-Kupang.com, Rabu, 20/12/2017), kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di NTT tergolong tinggi, (Pos Kupang, Jumat, 8/02/2019). Kita sering mendengar, melihat secara langsung dan bahkan pernah mengalami sendiri kekerasan yang terjadi di dalam keluarga (rumah tangga), baik kekerasan fisik maupun psiksis (verbal),misalnya sikap marah. Kekerasan fisik ini ditandai dengan adanya luka pada kepala, mata, kaki, tangan dan anggota tubuh lainnya hingga pada kematian korban. Sedangkan kekerasan psiskis menimbulkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri yang berakibat berat pada cacat mental seseorang. Selain itu, korban mengalami gangguan tidur, tidak bisa makan, stres, depresi, gangguan jiwa dan bahkan ada yang membunuh diri, “Kasus Okber Riwu Djara”, (Flores Pos, Rabu, /6/02/2019). Kekerasan dalam rumah tangga baik dilakukan oleh suami terhadap isteri, oleh isteri terhadap suami, oleh orang tua terhadap anak maupun oleh anak terhadap orang tua, namun yang paling banyak terjadi adalah kekerasan terhadap perempuan dan anak, itu jelas akan berdampak buruk terhadap keutuhan fisik dan psikis pribadi yang bersangkutan. Merusak keharmonisan hubungan antara anggota keluarga. Memang terjadinya kekeresan dalam rumah tangga terjadi karena pelbagai hal, seperti mabuk alkohol, krisis ekonomi, selisih pendapat, dan rendahnya pendidkan agama, budaya dan perkawinan, akan tetapi itu semua menjadi alasan kemudian karena pada dasarnya adalah minus cara berpikir kritis untuk berdialog, selalu mengedepankan emosional. Sikap kritis mempertanyakan kekurangan dan kelebihan dalan hidup berkeluarga. Jadi mindset yang harus dirubah dan diarahkan untuk berdialog, bagaimana supaya hidup damai. Sebetulnya tidak sampai pada kekerasan jika semua anggota keluarga terkhusus orang tua memiliki fondasi yang kuat dan berpatokan pada pola pikir dan tindak damai.

Rumah tangga seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi seluruh anggota keluarga. Akan tetapi pada kenyataannya, justru banyak rumah tangga menjadi tempat penderitaan dan penyiksaan. Seperti sudah diungkapkan berbagai bentuk kekerasan fisik justru terjadi di rumah tangga termasuk perkosaan, pemukulan pada istri dan penyiksaan anak-anak (child abuse). Kekerasan dalam rumah tangga ini umumnya paling sulit diungkapkan, karena selain dianggap sebagai urusan internal suatu rumah tangga, juga ada kecenderungan masyarakat lebih menyalahkan korbannya, (Ahmad Suaedy, 2000).

Suatu kepastian dengan adanya dialog pasti melahirkan situasi damai di tengah keluarga yang mengalami konflik kekerasan. Tidakkan fisik dari bentuk perdamaian ini seperti jabat tangan, sederhana namun sangat bermakna dan dapat menghilangkan konflik kekerasan dalam keluarga (rumah tangga). Tujuan dialog adalah pencarian solusi bersama untuk memecahkan masalah, membangun keluarga dan menemukan arah hidup keluarga menuju masa depan. Yang harus diterapkan juga dalam dialog adalah kejujuran, saling mendengarkan dan tidak mencari-cara kelemahan anggota keluarga, dan tidak boleh terlalu mengedepankan sikap emosional.

Namun dialog hanya sebuah kecakapan dan keterampilan, dialog akan lebih bermakna jika berorientasi pada perdamaian. Sudah menjadi watak atau bahkan fitrah dari setiap manusia untuk mencita-citakan sebuah kehidupan yang aman, tentram, harmonis, dan damai. Rasa damai dan aman merupakan hal yang esensial dalam kehidupan manusia. Dengan kedamaian, diharapkan akan tecipta dinamika yang sehat, harmonis, dan humanis dalam setiap interaksi antarsesama, tanpa ada rasa takut dan tekanan-tekanan dari pihak lain. Bahkan perdamaian selalu menjadi kebutuhan dasar setiap manusia yang apabila perdamaian itu terwujud, ia hidup dan apabila perdamaian itu absen, ia mati (Ahmad Nurcholish).

Mengapa kekerasan dalam rumah tangga harus diperhatikan dan diperjuangkan secara serius? Tentu kita menginginginkan supaya keluarga rumah tangga tetap dilihat sebagai agen perdamaian dan membentuk pribadi-pribadi yang berkualitas, maka sebagai insan yang insaf akan pentingnya perdamaian menuju rumah tangga berlandaskan harmonisasi dan toleransi, tentu kita pun dengan tegas tidak mengamini kekerasan dalam rumah tangga.

Seringkali penyelesaian konflik kekerasan dalam keluarga juga tidak berorientasi pada hidup damai, yang kita lihat atau kita alami sendiri, ketika ada kekerasan terjadi dalam keluarga sendiri atau rumah tetangga cenderung membiarkan situasi dan kondisi lepas begitu saja atau menunggu situasi aman begitu saja. Padahal kita menginginkan supaya ada konsesus bersama dalam keluarga untuk mengedepankah hidup damai. Membicarakan secara bersama apa yang pantas dibicarakan dan dilakukan untuk kebutuhan keluarga.

Dalam dialog tersebut perlu keterlibatan anak-anak walau mereka dominan mendengar, orang tua harus membicarakan apa adanya tanpa ada tipu muslihat juga kemunafikkan, dan orang tua mesti memberikan kesempatan berbicara kepada anak-anak yang sudah fase berbicara atau bisa berpikir. Selanjutnya orang tua mendekatkan diri secara khusus dan memberikan penjelasan yang lebih sederhana kepada mereka tentang apa yang telah dibicarakan secara bersama. Ketika dialog perdamaian ini dijalankan dengan baik akan melahirkan nilai-nilai lain, seperti; tolerasni dan cinta-kasih.

Tinggalkan Balasan