Opini

Selasa, 3 September 2019 - 17:17 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Kota Ruteng (Foto: Istimewa)

Kota Ruteng (Foto: Istimewa)

Kota Ruteng (Manggarai) dan Imajinasi Sang Pemimpin


“Imajinasi lebih berharga daripada ilmu pengetahuan. Logika akan membawa Anda dari A menuju B, imajinasi akan membawa Anda kemana-mana,” demikian Albert Einstein berkata (1879-1955).

Yohanes Hambur, S.Fil

Apakah Anda pernah mendengar nama seorang Albert Einstein? Siapakah orang ini? Mari kita mengenal dia lebih dahulu. Albert Einstein ialah seorang ahli fisika kelahiran German yang cukup terkenal di abad XX.

Ilmuwan dengan gaya rambut jabrik dan mempunyai mata yang tajam ini merupakan seorang yang cukup berpengaruh dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Ia adalah seorang yang berhasil mencetus beberapa teori penting dalam sejarah peradaban umat manusia, di antaranya ialah Teori Kuantum Cahaya dan Teori Relativitas.

Tidak hanya berpengaruh pada bidang ilmu pengetahuan, beberapa karya Einstein juga telah berhasil memberikan daya lebih terhadap dunia filsafat, secara khusus dalam bidang filsafat ilmu.

Salah satu pikiran penting Einstein yang cukup terkenal dan mengebohkan dunia ilmu pengetahuan ialah penemuannya tentang rumus Kesetaraan Massa Energi, yang biasa dikenal dengan E=mc2.

Berkat berbagai jasa dan kontribusinya bagi ilmu pengetahuan modern, pada 1921 Einstein mendapatkan “Nobel Fisika”. Penghargaan intelektual ini diperolehnya secara khusus berkat penemuannya tentang hukum Efek Fotolistrik, sebuah hukum yang sangat penting dalam pengembangan Teori Kuantum.

Einstein Kecil yang Suka Berkhayal

Sejak kecil Einstein memang sudah dikenal sangat genius. Ia merupakan seorang yang memiliki intuisi yang tinggi akan alam, selalu dan sangat takjub serta takjim pada keindahan bentangan dan segala kemungkinan yang dihidangkan semesta.

Kegeniusan Einstein kecil ini terlihat ketika ia mulai berusia 5 tahun. Pada usia tersebut, ia tak henti-hentinya memandangi sebuah kompas yang dihadiahkan oleh ayahnya. Saat itu, ia suka menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk memperhatikan jarum kompas yang selalu menunjuk ke arah utara.

Kadang Einsten kecil ini sedikit “nakal”. Ia mencoba menggoyang-goyangkan kompas tersebut. Membolak-balik badan kompas itu. Tetapi, tetap saja jarumnya mengarah ke tempat yang sama. Sampai suatu ketika, ia sadar dan tahu bahwa itu semua terjadi karena ada medan magnet yang mengaturnya.

Diceritakan pula, ketika berusia 15 tahun, Einstein yang sudah mulai beranjak dari masa kanak-kanak ini melakukan suatu hal yang di luar kebiasaan. Saat itu, ia membayangkan dirinya seolah-olah sedang mengendarai cahaya. Ia sangat berkeinginan bagaimana rasanya ketika ia berada dalam tumpangan cahaya yang memiliki kecepatan 300.000 km/detik.

Khayalan ini tentu saja cukup menakjubkan. Apalagi dengan usia Einstein yang sementara beranjak menuju masa remaja itu. Sulit dibayangkan bahwa orang-orang seumuran dia bisa melakukan hal demikian.

Bayangan Einstein itu tentu saja sangat mustahil akan terjadi. Kita akan berpikir, “bagaimana mungkin kita bisa mengendarai cahaya? Toh kita tahu bahwa tak sampai sekedip mata saja kecepatan cahaya itu sudah mengelilingi bumi sebanyak 7.5 kali?”

Akan tetapi, satu hal yang cukup ajaib di kemudian hari terjadi. Khayalan Einstein kecil tersebut pada akhirnya ternyata berhasil membuat dunia menjadi tercengang.

Berkat khayalan atay imajinasinya itu, ia pada akhirnya menemukan suatu ilmu yang sangat bermanfaat, yakni Teori Relativitas Umum, yang sekarang cukup berpengaruh dalam bidang ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi lahirnya berbagai macam teknologi canggi.

Imajinasi sebagai Sumber Kekuatan

Kalau kita perhatikan sedikit latar belakang dan perjalanan intelektual dari seorang Einstein, sudah terbukti bahwa segala hal yang diperoleh dan dicapainya, seperti mengubah dunia ilmu pengetahuan, merupakan hasil dari kemampuannya untuk berimajinasi.

Sebagaimana disampaikan di bagian awal tulisan ini, bagi Einstein, imajinasi atau khayalan merupakan suatu kekuatan yang lebih besar untuk memengaruhi kehidupan. Daya dobrak imajinasi sangat kuat dan kencang bagi penentuan suatu perubahan.

Terlalu besarnya peran imajinasi itu, Einstein sendiri bahkan sampai menomorduakan ilmu pengetahuan yang kerap mengendepankan logika atau nalar. Einstein berpandangan bahwa bukan ilmu pengetahuan yang lebih penting dari imajinasi. Tetapi sebaliknya, imajinasi justru menjadi sangat penting bagi keberadaan ilmu pengetahuan. Imajinasilah yang menghasilkan ilmu pengetahuan itu.

Kalau kita lihat definisi yang diberikan oleh Wikipedia, kata imajinasi itu sendiri dimengerti sebagai “daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar kejadian dalam angan-angan berdasarkan kenyataan atau pengalaman.”

Imajinasi merupakan suatu kreatifitas yang dihasilkan di dalam pikiran terhadap suatu hal yang dijumpai di dalam kehidupan. Ilmu psikologi membahasakannya sebagai suatu “proses membangun kembali persepsi dari suatu benda yang terlebih dahulu diberi persepsi pengertian”.

Imajinasi merupakan suatu kerja akal, yakni usaha untuk mengembangkan secara lebih luas terhadap segala hal yang tampak, baik itu yang diperoleh lewat indra penglihatan, indra peraba, indra perasa, indra pendengar bahkan sesuatu yang diperoleh lewat intuisi batin.

Dengan kemampuan berimajinasi, kita bisa mengembangkan segala hal yang ada dan tampak biasa-biasa saja menjadi suatu hal yang luar biasa dan bernilai bagi peradaban dunia.

Imajinasi memberikan daya kreatifitas serta mampu memberikan kekuatan inovatif bagi diri kita. Kreatifitas dan inovasi tentu saja sangat penting, yakni dalam rangka memberikan suatu visi baru bagi kita dalam melihat dan membangun kehidupan dunia dengan penuh keberadaban.

Imajinasi bagi Seorang Pemimpin

Apakah imajinasi sangat diperlukan bagi seorang pemimpin? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita mengajukan beberapa pertanyaan penting berikut, “siapakah pemimpin itu? Apa yang membuat orang layak disebut sebagai seorang pemimpin?

Atau kriteria apa saja yang mesti dimiliki oleh seseorang sehingga ia layak dan pantas disebut sebagai pemimpin? Apakah sama antara seorang pemimpin dengan seorang kepala suatu perusahaan misalnya?

Untuk menjawab beberapa hal tersebut, saya kutip pernyataan dari seorang pemikir bernama Peter Drucker. Ia pernah memberikan suatu pandangan yang menarik tentang siapa itu seorang pemimpin.

Dengan memberikan perbedaan antara seorang yang berperan sebagai manager dari seorang yang memiliki bakat sebagai pemimpin, ia menyebutkan demikian, “manager melakukan sesuatu dengan benar, pemimpin melakukan hal yang benar.”

Drucker tentu menyadari bahwa tugas seorang pemimpin sangat berbeda dengan kerja seorang manager. Seorang manajer, dalam suatu perusahaan misalnya, akan menjalankan tugasnya dengan memperhatikan aturan main dari suatu perusahaan.

Aturan itu dibuat tentu dalam kerangka berpikir kalkulatif; ada pertimbangan untung rugi ekonomis di dalamnya. Dalam konteks perusahaan, kalkulasi untung rugi itu tidak selalu merujuk pada sejauh mana kinerja dan peran perusahaan itu baik dan benar bagi kemaslahatan hidup banyak orang.

Akan tetapi, yang dipertimbangkan di dalamnya ialah sejauh mana perusahaan itu mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi seorang pemiliknya.

Aturan yang dibuat di dalam suatu perusahaan diciptakan dan dipatuhi untuk kepentingan kesejahteraan pemilik perusahaan itu. Seorang manajer perusahaan, ia akan berhasil disebut sebagai manajer yang baik ketika ia berbuat sesuai dengan intensi tersebut.

Lalu bagaimana dengan seorang pemimpin? Pemimpin, sebagaimana diterangkan oleh Drucker, ialah seorang yang dalam tindakannya dituntun oleh idea kebenaran. Tidak seperti seorang manajer, pemimpin akan menjalankan suatu aturan tidak untuk demi aturan itu sendiri.

Akan tetapi, ia menjalankan aturan itu, karena ia menilai bahwa di dalam aturan tersebut memang ada kebenaran. Aturan itu sungguh-sungguh merupakan perwujudan dari idea kebenaran itu.

Karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya sampai pada batas tugas untuk menjalankan suatu aturan dengan benar. Tetapi, ia mesti mampu melampaui dan meyakinkan bahwa memang aturan itu benar adanya dan karena itu sangat layak untuk dijalankan dan dipatuhi.

Dalam hal ini, pandangan Franz Magnis-Suseno juga cukup penting untuk memahami seorang pemimpin. Mirip seperti apa yang disampaikan oleh Drucker, bagi Magnis Suseno, pemimpin ialah orang yang memiliki visi. Dalam hal ini, visi dipandang sebagai suatu kemampuan untuk melihat ke arah depan.

Pemimpin yang visioner ialah seorang yang mampu menembus batas-batas fenomena dan fakta. Ia bisa melihat lebih dalam apa yang tersajikan di hadapan kita, mampu menilai kadar kualitas segala hal yang ada dalam terang tuntunan idea kebenaran dan idea kebaikan.

Karena itu, dengan sendirinya, seorang pemimpin sudah pasti ialah seorang yang memiliki kemampuan berimajinasi yang tinggi. Ia adalah seorang yang mampu mengambil jarak terhadap segala hal yang ada, menilai apakah yang ada itu sudah sungguh baik atau benar dan bernilai atau tidak.

Kota Ruteng dalam Imajinasi Pemimpinnya

Tentang pemimpin berimajinasi ini, saya sendiri cukup tertarik untuk membahas Kota Ruteng, sebuah kota kelahiran saya yang berada di wilayah bagian Barat Pulau Flores.

Secara legal, Kota Ruteng merupakan Ibu Kota dari wilayah Kabupaten Manggarai, yang saat ini dipimpin oleh seorang bupati yang memiliki gelar sebagai seorang doktor hukum, yakni Deno Kamelus.

Beberapa bulan sebelum saya menulis ini, saya menghabiskan cukup banyak waktu di daerah ini setelah beberapa tahun menempuh pendidikan Strata 1 di Ibu Kota – Jakarta. Sebagai seorang putra asli daerah Manggarai, tidak bermaksud untuk menyongkakkan diri, saya secara pribadi cukup prihatin dengan keberadaan daerah saya ini.

Tiga tahun setengah saya menempuh pendidikan untuk mendapat gelar sarjana di luar daerah, mengamati berbagai kemajuan di wilayah tempat saya menimbah ilmu pengetahuan, saya bandingkan bahwa Kota Ruteng khususnya dan Manggarai umumnya cukup sangat ketinggalan.

“Kota Ruteng ialah Kota Mati”. Itulah julukan saya atas kota ini. Anda sekalian mungkin tidak sepakat dengan julukan saya ini. Saya menghargai itu. Dalam hal ini, kita mungkin memiliki pandangan yang berbeda akan hal itu.

Sekedar bercerita, saya kebetulan merupakan seorang yang hidup di pinggir Kota Ruteng. Kampung saya terletak di wilayah bagian Barat dari Cibal. Nama kampung saya ialah Nanga.

Secara administratif, kampung saya ini terletak di wilayah Kecamatan Cibal Barat bagian selatan. Berbatasan langsung dengan dua kecamatan, yakni Kecamatan Wae Ri’i dan Kecamatan Rahong Utara.

Dari Kota Ruteng, jarak kampung saya ini sekitar 15 km. Kenapa saya bercerita tentang ini? Biar Anda sekalian tahu, meskipun hanya berada di pinggir kota kabupaten, kampung saya ini dan juga beberapa kampung di sekitarnya sama sekali tidak disentuh oleh “kue” pembangunan.

Untuk kampung saya misalnya, sejak dari sononya sampai detik ini, kami harus rela mengonsumsi air keruh di salah satu sungai bernama Kali Wae Racang. Keadaan air di Kali Wae Racang ini cukup memprihatinkan.

Bayangkan, kandungan air itu diisi dengan banyak lumpur dan limbah-limbah yang mengalir dari berbagai wilayah, termasuk dari Kota Ruteng. Secara medis, konsumsi air seperti ini sebenarnya sangat tidak layak. Alih-alih menikmati air bersih, kami justru meminum air kotor dan penuh bakteri.

Bukan hanya air sebenarnya, jalan raya ke kampung saya ini juga sangat memprihatinkan. Setiap kali ke Ruteng untuk menjual hasil pertanian dan melakukan aktivitas lainnya, kami selalu kesulitan. Mobil-mobil angkutan selalu menolak ketika diminta untuk datang ke kampung kami, dengan pertimbangan jalan rusak.

Lebih disayangkan, ketika ada warga kampung yang sakit dan harus segera membutuhkan pertolongan medis, warga kampung kami terpaksa bergotong pasien dengan memakai alat bantu seperti bambu sampai di titik jalan yang bisa dilalui mobil. Sekitar 2 km jaraknya.

Hal lain, kami juga tidak pernah menikmati “terang listrik”. Selama berada di kampung, saya cukup menderita karena masalah ini. Bayangkan, kalau hari sudah mulai malam, suasana kampung sangat gelap.

Untuk membantu penerangan, kami biasa mengatasinya dengan bantuan cahaya “lampu pelita”. Anda yang pernah tinggal di kampung pasti tahu tentang derita seperti ini.

Kita tidak bisa melihat secara terang benderang wajah sesama kita, meskipun dalam jarak yang sangat dekat. Jangan tanya bagaimana kalau hendak belajar, karena itu sangat tidak mungkin. Sehingga jangan heran kalau kemampuan otak kami dari kampung-kampung ini begini-begini saja.

Kalau dibandingkan dengan mereka yang tinggal di kota, sangat ketinggalan jauh dengan otak kami ini. Keadaan kami ini sebenarnya yang menjadi pengendala terwujudnya visi “SDM Unggul, Indonesia Maju”. Tetapi, layakkah kami yang dari kampung ini dipersalahkan?

Itu sedikit cerita dari kampung saya. Kalau kita beranjak ke wilayah lain di Manggarai, masalah serupa sangat banyak. Beberapa bulan lalu, ketika saya masih di daerah ini, ada beberapa masalah yang cukup meresahkan diri saya.

Kalau Anda membaca berita di beberapa media dalam jaringan atau online, Anda tentu pasti masih ingat dengan masalah sampah yang tak terurus di area TPA Poco di pinggir utara Kota Ruteng.

Kalau dari Kota Ruteng, sebelum ke wilayah Poco itu, ada satu TPA yang biasa disebut “Kilo 5” juga cukup memprihatinkan.

Bayangkan sampah-sampah yang dibuang ke tempat itu dibiarkan berserakkan begitu saja.

Memang, ketika saya perhatikan, selama ini sampah-sampah itu dibakar. Tetapi, pemerintah sepertinya tidak tahu bahwa mengatasi masalah sampah dengan cara membakar sebenarnya sangat mengganggu keseimbangan lingkungan.

Apalagi TPA itu berada tepat di pinggir jalan yang ramai dilalui oleh banyak orang dan tidak jauh dari pemukiman warga.

Asap pengap yang dihasilkan dari berbagai macam sampah itu, selain merusak alam juga menimbulkan polusi bagi udara. Saya berani menjamin bahwa banyak orang yang merasa derita setelah menghirup udara yang sudah tekontaminasi oleh hasil bakaran sampah tersebut.

Bergeser ke Kota Ruteng sedikit, kita akan temukan begitu “ngawurnya’ tata kota di sana. Banyak sekali parkiran liar. Kita tidak bisa bedakan mana terminal dan mana trotoal.

Di Kota Ruteng, “hak warga atas jalan kaki sama sekali tidak dipenuhi”. Semua itu dirampas oleh kendaraan-kendaraan bermotor yang parkir secara sembarangan di trotoar. Parahnya, masalah ini sama sekali luput dari perhatian pemerintah.

Kalau menuju ke Pasar Ruteng, itu lebih parah lagi. Sepanjang jalan kita selalu merasakan bau busuk yang sangat menyengat. Gara-gara ini, pernah saya hampir setengah sadar. Bayangkan baunya menembus “masker” yang saya pakai.

Sebelum kembali ke Jakarta, beberapa hari lalu saya juga sempat menghadiri acara pameran di Kota Ruteng. Sebutannya ialah “Pameran Pembangunan”. Narasinya memang terdengar menakjubkan. Pameran ini diadakan sebagai bagian dari peringatan hari Kemerdekaan RI. Hari Kemerdekaan? Apakah betul sudah merdeka?

Tetapi, selama saya menyusur beberapa tempat pameran, saya sama sekali tidak menemukan sesuatu yang mengundang saya untuk berkata, “memang pembangunan di Manggarai ini cukup hebat dan maju. Manggarai sudah merdeka”.
Bagi saya, tidak ada hal yang baru, yang ditampilkan di pameran itu. Tidak ada tanda-tanda kemerdekaan dari orang Manggarai.

Saya justru menemukan beberapa pemandangan yang aneh; sebuah permaianan yang mirip dengan “perjudian”. Saya bertanya, apakah ini merupakan bagian dari cara membangun manusia? Membungkus perjudian di balik “pameran pembangunan”?

Gairah dan antusias warga Kota Ruteng ketika menonton pameran tersebut memang sangat tinggi. Tetapi, saya justru menemukan suatu kelemahan di balik perasaan mereka itu, “ada kebutuhan akan hiburan yang tidak terpenuhi di dalam diri mereka”.

Warga Kota Ruteng memang haus akan hiburan. Tidak boleh kaget dengan itu. Sebab ruang-ruang publik di Kota Ruteng sangat jarang ditemukan. Sulit bagi mereka untuk mencari tempat untuk melepas penat dan membuang pekat setelah seharian mencari nafkah di kota ini.

Sayangnya ini sama sekali luput dari perhatian pemerintah? Selama berada di Manggarai, saya selalu bertanya, “apa sebenarnya yang dilakukan pemimpin di wilayah ini?” “Kenapa Kota Ruteng khususnya dan Manggarai umumnya seperti sebuah kota mati?’

Dengan tetap merujuk pada soal imajinasi menurut Einstein, bagi saya, Kota Ruteng sebenarnya ialah kota mati. Tidak ada imajinasi yang tampak di dalamnya. Segala hal yang saya ceritakan di atas merupakan wujud dari tak adanya imajinasi dari seorang pemimpin.

Padahal, kalau pemimpin di wilayah ini memiliki imajinasi, ia tidak akan mungkin membiarkan begitu saja keadaan kota itu. Ia pasti sudah akan menyulap Kota Ruteng menjadi kota yang indah, bersih dari sampah-sampah, tata kotanya teratur, ruang-ruang publiknya ada, hak-hak warganya juga akan terpenuhi. Dengan itu, jadilah “Kota Ruteng (Manggarai) sebagai Kota Molas”.

Akhirnya, kita harus sepakat dengan ungkapan ini, “Kita (Manggarai) Butuh Pemimpin yang Punya Imajinasi dan Visioner”. Menuju pemimpin baru, pemimpin yang memiliki imajinasi yang tinggi.”

Artikel ini telah dibaca 240 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya