Opini

Rabu, 23 Mei 2018 - 11:27 WIB

1 tahun yang lalu

logo

[Opini] Restorasi Gerakan Mahasiswa

Oleh : Shergius Agung

Perdebatan seputar kemandekan gerakan mahasiswa pasca reformasi 1998 dalam meresapon dinamika kebangsaan saat ini terus digugat dan dipertanyakan oleh banyak kalangan terutama oleh mahasiswa itu sendiri. Sorotan kritis terhadap gerakan mahasiswa memang tidak bisa dinaifkan ketika diperhadapkan dengan realitas lapangan yang sebenarnya.

Faktanya, memang terdapat indikasi kuat akan kemandekan gerakan mahasiswa hari ini. Melalui tulisan ini, saya hendak menggugat gerakan mahasiswa yang stagnan dan mundur, di mana salah satu indikasinya adalah ruang diskusi mahasiswa yang tidak lagi diramaikan. Pembicaraan tentang problematika sosial baik di tingkat lokal maupun nasional kurang dikritisi.

Tulisan ini, tidak hendak mengutuk miskinnya gerakan mahasiswa hari ini, melainkan memberikan pemahaman yang bernas seputar kompleksitas gerakan mahasiswa, sehingga perdebatannya tidak lagi seputar disorientasi serta mandeknya gerakan mahasiswa.

Pertanyaan kemudian, benarkah sejarah kebesaran gerakan mahasiswa di Indonesia lepas dari denyut nadi dinamika kebangsaan dan kemasyarakatan sehingga alpa terhadap problematika sosial kemasyarakatan?

Sejarah menuturkan dengan tintah emasnya, bahwa hampir sejumlah gerakan mahasiswa sepanjang sejarah perjalanan bangsa ini tidak bisa dilepaskan oleh gerakan-gerakan moral-sosial mahasiswa, serta dukungan moril masyarakat.

Mahasiswa dan masyarakat menyatu dalam sikap dan tindakan dalam merespon dinamika bangsa ini, terutama yang berkaitan dengan arogansi penguasa. Singkatnya, aksi-aksi mahasiswa harus dibarengi dengan upaya pemberdayaan masyarakat dan ditunjukan untuk membongkar kepentingan rakyat banyak bukan para elite dan golongan tertentu.

Sependapat atau tidak, mahasiswa menjadi salah satu elemen penting dalam mengawal dan melakukan perubahan di negeri ini. Peran dan tanggungjawab mahasiswa dalam menggerakan perubahan menjadi panggilan nurani tersendiri. Nyaris setiap momentum perubahan besar di Indonesia tidak bisa pisahkan dengan berbagai kontribusi mahasiswa.

Mulai dari peristiwa 1908 yang kemudian menjadi pijakan awal kebangkitan nasional dan itu murni atas inisiatif mahasiswa. Kemudian berikutnya muncul sumpah pemuda tahun 1928 yang melahirkan kebulatan tekad bangsa ini, belum lagi peristiwa penting lainnya yang terjadi pra kemerdekaan yang semuanya tidak lepas dari kontribusi mahasiswa pada saat itu.

Pasca proklamasi 1945, mahasiswa harus berbenturan dengan kebijakan dan kondisi politik di bawa kepemimpinan Soeharto. Tingginya suhu politik dan peran aktif partai politik menjadikan gerakan mahasiswa tidak bisa bergerak sendiri secara independen yang kemudian gerakan mahasiswa identik dengan afiliasi politik partai tertentu dan situasi yang pergerakan sedikit mandek.

Harus diakui bahwa pergerakan mahasiswa berbeda dengan partai politik. Pergerakan mahasiswa itu sendiri terletak pada perjuangan nilai (value) yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat ataupun mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa mengambil pilihan gerakan itu karena mereka memahami dan merasakan betul bahwa terdapat nilai-nilai suci, ideal bahkan universal yang telah tergerus oleh kebijakan pemerintah.

Tampilnya Orde Baru yang akibat tumbangnya Orde Lama bukan memberikan angin segar bagi perjalanan bangsa ini, melainkan menjadi malapetaka sistemik, demokrasi dikebiri, HAM dikesampingkan serta pembangunan sebagai alat penindasan. Kondisi inilah yang kemudian menjadikan mahasiswa sebagai aktor terpenting dalam mengawal dan menyampaikan suara-suara rakyat.

Tahun 1998 menjadi tahun kemenangan gemilang gerakan mahasiswa dan menumbangkan rezim tirani-hegemoni.

Pasca tahun 1998, kembali mahasiswa diperhadapkan dengan kondisi bangsa yang sulit hingga saat ini. Untuk itu, format gerakan mahasiswa harus tanpa kekerasan. Kalau tidak, identitas mahasiswa sebagai kaum intelektual akan dicederai oleh sendirinya. Alhasil, mahasiswa sebagai pejuang nilai dan pembela kebenaran-kebenaran sejati. Mestinya strategi gerakan yang dibangun harus bertumpu pada sikap dialogis terhadap pemerintah. Intropeksi tentang kemurnian niat serta gerakan respek terhadap kepentingan rakyat.

Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa muncul ketika terjadi ketimpangan dan kesenjangan dalam bangsa dan negara.

Oleh karena itu, suka tidak suka, kita membutuhkan perubahan. Perubhan yang bisa mengkonservasi nilai, identitas dan jati diri bangsa untuk mensejahterakan rakyat.
Untuk mencapai perubahan itu pula, perlu sebuah gerakan kebangsaan yang dilakukan mahasiswa dan rakyat untuk mengembalikan (restorasi) karakter solidritas dan cita-cita founding fhaters.

Mengapa Perlu Restorasi?

Dalam sejarah peradaban manusia modern, terdapat dua gerakan yang cukup populer yaitu model gerakan revolusi dan reformasi. Revolusi adalah model gerakan yang bertujuan untuk mencapai perubahan mendasar terhadap tatanan suatu masyrakat atau bangsa yang dilakukan dengan cara ekstrim. Gerakan revolusi ini sering terjadi karena benturan antara kelompok yang menghendaki perubahan dan yang tidak mau berubah.
Berangkat dari kenyataan pro dan kontra terhadap perubahan maka munculah gerakan reformasi. Secara umum gerakan reformasi yaitu ingin mengembalikan basis-basis kebangsaan yang telah lama pudar. Dari berbagai gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa di atas, Indonesia sudah saatnya harus di restorasikan. Dalam perjalanan bangsa yang terus dihantui dendam masa lalu, konflik horizontal dan ancamm disintegrasi sehingga semangat rekonsiliasi dibutuhkan untuk membangun kembali kekuatan nasional menuju kejayaan bangsa. Dengan selalu mengikuti perkembangan zaman dan kemjuan peradaban, restorasi diyakini mampu menjawab permasalahan bangsa dewasa ini. Alhasil, pilihan gerakan restorasi dapat menjawab persoalan persoalan kebangsaan.

Jalan dan Aktor Restorasi

Bagaimanakah gerakan ini dijalankan? Dalam konteks Indonesia, pancasila merupakan ekspresi dari ideologi kebangsaan. Oleh karena itu, proses konservasi nilai-nilai kebangsaan tersebut harus kembali kepada pancasila sebagai senjata spiritual rakyat Indonesia dan juga sebagai senjata material perubahan.

Siapakah aktor restorasi itu? Yang paling vital adalah kaum muda atau mahasiswa yang berintelek. Kelompok pemuda merupakan kekuatan paling penting restorasi. generasi muda merupakan lapisan masyarakat yang berkembang di tengah proses ideologisasi pancasila. Dengan demikian, gerakan restorasi juga harus menyatu dengan upaya revitalisasi pancasila sebagai landasan filosofis berbangsa dan bernegara. Yang menjadi tugas kita sekarang ini adalah bagaimana pancasila sebagai ideologi harus berdialektika dalam mengembangkan diri, adaptif dengan kondisi zaman, dan tetap berorientasi kemasa depan?

Revitalisasi pancasila perlu menekankan pada orientasi ideologi dengan perwujudan kemajuan yang pesat, peningkatan kesejahteraan yang tinggi dan merata, serta persatuan yang kokoh dari seluruh rakyat Indonesia.

*)Penulis adalah Anggota PMKRI Cab. Makassar tinggal di Makassar.

Artikel ini telah dibaca 21679 kali

Baca Lainnya
x