*OlehFransiskus Momang

Diskusi seputar bidang pendidikan menjadi salah satu tema yang hangat dibicarakan di kalangan kaum intelektual bangsa ini. Bahwasanya aspek pendidkan merupakan landasan utama menjamin eksisnya suatu bangsa. Bangsa yang kualitas pendidikannya rendah akan mengalami kegagalan dalam persaingan di dunia global, sebaliknya bangsa yang kualitas pendidikannya baik memiliki peluang besar untuk meraih kemenangan dalam hiruk pikuknya persaingan di dunia global. Secara sederhana melalui pendidikan manusia atau individu dalam suatu bangsa dapat menjadi pribadi yang matang secara intelektual maupun keperibadian. Selain itu, pendidikan membawa manusia untuk mengenal diri, menjadi pribadi yang berintegritas mampu berpikir kritis _ rasional, dan siap bertanggungjawab atas setiap keputusan yang diambil.Tentu saja, figur yang berperan penting dalam aktivitas kependidikan ialah para pendidik. Dalam lingkungan pendidikan terjadi relasi yang intensif antara pendidik dan peserta didik. Sebuah keharusan bagi para pendidik untuk mejalani tugasnya sesuai dengan status atau peran yang ia miliki. Peran pendidik di sini sangat penting dalam proses pemembentukkan jati diri serta kematangan moralitas anak bangsa dalam membangun dan menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang diwarnai oleh pluriformitas agama, suku, ras dan agama. Presiden joko widodo, dalam pidato pada peringatan hari jadi persatuan guru republik Indonesia(PGRI) di stadion pakansari kabupaten bogor, sabtu 1/12/2018 bertema “Meningkatan Profesional Guru Menuju Abad Ke-21”, ia mengatakan bahwa peran guru diyakini tak bakal tergantikan oleh mesin secanggih apapun. Sebab guru diperlukan untuk membentuk karakter anak bangsa dengan budi pekerti, toleransi dan nilai-nilai kebaikan. Peran guru juga mampu menumbuhkan empati sosial, membangun imajinasi dan kreativitas serta mengkokohkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa (kompas, 2/12/2018).

                                   

Dewasa ini tidak bisa dimungkiri bahwa masih terdapat segelintir para pendidik di bangsa ini yang tidak menjalankan peranya secara sungguh-sungguh. Bahkan, masih ada segelintir pendidik di bangsa ini yang bekerja hanya untuk mencari uang semata. Mereka berprinsip “initinya di penghujung bulan dompetku berisi” entah peserta didik mengerti atau tidak itu bukan menjadi suatu persoalan. Prinsip ini sangat membahayakan peserta didik dalam proses pencarian jati dirinya, serentak mengancam masa depan bangsa Indonesia dalam persaingan dengan Negara-negara lain. Meskipun kurikulum berganti terus, tetapi cara mengajar guru di depan kelas justru tidak berubah. Upaya peningkatan guru tidak serius dilakukan. Tidak mengherankan jika kualitas pendidikan kita di kancah internasional tidak kunjung membaik (kompas,11/12/2018). Mahardi dalam “Indonesia Butuh Jokowi” memaparkan (11) masalah di Indonesia. Salah satu masalah yang menjadi perhatian khusus dalam bangsa Indonesia ialah rendahnya kompetensi anak bangsa di pasaran dunia global. Hal ini menunjukan bahwa kualitas anak bangsa masih minim dibandingkan dengan Negara lain.

Pendidikan Antisipatoris

Sebuah keharusan pendidikan bersifat antisipatoris, yakni mempersiapkan anak bangsa untuk menjawabi kebutuhan di masa mendatang dengan pelbagai kompetensi yang seharusnya dimiliki. Pendidikan antisipatoris berarti pendidikan yang mampu melihat jauh ke depan akan kebutuhan anak bangsa atau generasi muda. Anak bangsa atau generasi muda dibekali dengan pelbagai keterampilan dan kemampuan untuk bisa menghadapi perkembangan teknologi dan informasi yang semakin canggih. Lapangan kerja sekarang menuntut kealihan, ketrampilan, dan kreativitas serta bisa menguasai teknologi yang sudah menyapa di setiap dimensi kehidupan.

Mengingat pendidikan antisipatoris ini sangat penting, peran pendidik atau guru sangat urgen. Para pendidik harus bekerja keras untuk membentuk jati diri anak bangsa dalam menjawabi pelbagai tawaran di dunia global. Para pendidik harus bekerja sesuai dengan tugasnya. Parinsip “intinya pengujung bulan dompetku berisi” harus ditinggalkan. Sebab kalau tidak, kwekuensi sangat jelas yakni kualitas anak bangsa akan minim dan eksistensi bangsa ini suram dalam persaingan dengan Negara-negara lain.

Hemat saya dalam melakasanakan pendidikan antisipatoris, ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang pendidik antara lain: Pertama: pendidik harus menjadi teladan yang baik. Hal ini merupakan salah satu alat pendidikan demi mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidik harus memberikan contoh yang baik kepada peserta didik, dan jadikan seorang pendidik itu sebagai buku yang baik, bermutuh, dan bermartabad serta sumber moralitas untuk dibaca oleh peserta didik. Dengan ini pendidik berhasil merenovasi tingkah laku peserta didik.

Kedua: pendidik harus memiliki kompetensi atau kealihan yang memadai. Di sini, Kualitas peserta didik sangat bergantung dari kualitas para pendidik yang diajar. Kualitas pendidik sangatlah penting untuk mengembangkan kemampuan intelektual peserta didik. Pendidik harus mampu membentuk perserta didik menjadi orang yang berkualitas atau bermutu. Dengan itu peserta didik menjadi pribadi yang integritas, berpikir kritis, inovatif, dan kompeten.

Ketiga: Pendidik harus berjiwa pancasialis. Pendidik harus menghayati nilai pancasila yang merupakan dasar atau landasan bangsa Indonesia. Tentu saja dalam menghayati nilai-nilai pancasila, diharapkan Pendidik harus mengajarkan kepada peserta didik akan makna nilai-nilai pancasila dan keberadaannya di Indonesia sebagai perekat pluralitas di bangsa ini.

Sependapat dengan para pemikir modern seperti yang dikemukakan oleh Adams & Dicky bahwa peran guru sesungguhnya sangat luas, meliputi: guru sebagai pengajar(teacher as instructor), guru sebagai pemimbing (teacher as counselor), dan guru sebagai pribadi (teacher as person). Hemat saya, beberapa poin di atas mampu menyiapkan anak bangsa atau generasi muda untuk menghadapi perkembangan teknologi dan informasi yang semakin canggih dewasa ini. Dengan ini Keberadaan pendidikan Indonesia menciptakan anak bangsa yang berkualitas, sehingga mampu berkompetisi dengan Negara-negara lain di belahan bumi ini. Di sini yang menjadi titik tolak ialah peran dari pendidik dalam mendidik anak bangsa.

Krisis Identitas Bangsa

Krisis identitas dalam terminologi psikologi, diantaranya menurut KH Muaimin, ditandai hilangnya kepercayaan diri. Salah satunya terlihat dari merosotnya mutu warga bangsa ini. Krisis identitas bangsa ini ditandai diperkuat oleh faktum empiris pelbagai konflik yang menerpa bangsa ini, yakni kasus korupsi, hoaks, ketidakadilan, human trafficking, radikalisme agama dan lain sebagainya.

Berhadapan dengan pelbagai masalah di atas sangat diharapkan intervensi bidang pendidikan untuk menangkal pelbagai persoalan yang sedang dihadapi. Lingkungan pendidikan sebagai tempat untuk membentuk manusia yang berkualitas, berkompeten dan bermoralitas menjadi garda terdepan dalam memberantas tindakan amoral dalam bangsa ini. Namun, di sini terjadi kontradiksi yang ketat yakni, justru orang yang taraf pendidikannya tinggi menjadi perintis atau yang pertama membuat bangsa ini dilumuri pelbagai masalah. Kita bisa melihat para koruptor, penyebar hoaks, dan pelaku kasus lainya rata-rata memiliki pendidikan yang tinggi. Muncul pertanyaan, dimanakah tujuan pendidikan yakni memanusiakan manusia? Hemat saya substansi persoalannya ialah kurangnya pendidikan karakter. Para pendidik masuk dalam ruang kelas hanya untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik dan mengabaikan unsur membimbing, membina dan mengajarkan peserta untuk menjauhkan tindakan amoral. Prof. Konrad kebung, dalam “Manusia Mahkluk Sadar Lingkungan” mengatakan, sistem pendidikan formal lebih mengutamakan kepentingan intelektual-akademik, banyak orang yang menjadi teorikus dan pintar. Selain itu, tolak ukur pendidikan kita adalah studi yang tinggi, nilai bagus dan disanjung. Sementara penilaian tentang sikap dan watak sangat lemah. Hemat saya ini merupakan alsan utama terjadinya masalah-masalah yang sering melanda bangsa indonesia, sehingga tidak heran kasus korupsi dan pelbagai kasus lainya sebagian besar orang yang memiliki taraf pendidikan tinggi.

Berhadapan dengan situasi ini peran pendidik sangatlah penting dan utama untuk mendidik, memimbing, melatih dan mempersiapkan anak bangsa untuk bisa meraih masa depan yang cerah, khususnya untuk menjaga keutuhan bangsa ini . Selain itu peran pendidik ialah mempersiapkan anak bangsa menghadapi persaingan global dan untuk menangkal krisis identitas bangsa ini. Pendidik harus mampu mengkonfrontasikan bahan ajarnya dengan realitas kehidupan harian. Jangan hanya dipenuhi konseptual atau teoritis belaka, tetapi sanggup diimplementasikan dalam kehidupan praksis.

*Mahasiswa STFK Ledalero, Alumnus SMAK St. Klaus Kuwu-Ruteng

Komentar Anda?