Opini

Kamis, 3 Oktober 2019 - 07:57 WIB

9 bulan yang lalu

logo

Rebut Kuasa di Tanah Wisata

Oleh: Maksimus Ramses Lalongkoe
(Warga Mabar di Perantauan, Dosen Universitas Mercu Buana dan Dosen Undira Jakarta)

Saya sengaja menulis artikel atau opini ini dengan judul sedikit provokatif ‘Rebut Kuasa’ di Tanah Wisata. Mungkin ada yang menolak atau bahkan merasa terganggu. Kalau pun ada yang teranggu, perasaan demikian merupakan bagian dari kegelisaan positif untuk kemajuan cara berpikir. Hari-hari belakangan ini, Manggarai Barat (Mabar) diriuhkan dengan hingar-bingar pendaftaran para bakal calon (Balon) bupati dan balon wakil bupati di sejumlah Partai Politik (Parpol), tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC), yang sudah membuka pendaftaran secara resmi dalam menyambut pesta demokrasi Pemilihan Umum Kepala Daerah serentak 2020 mendatang.

Hingar-bingar ini semakin marak dan semarak didiskusikan dan diperguncingkan diberbagai media sosial (medsos). Komentar dan argumentasi bernada negatif dan positif pun menyeruak silih berganti dari mulut masyarakat, baik yang tinggal di Mabar maupun di perantauan. Tentunya, bukan tanpa alasan dan dasar, publik menyampaikan unek-uneknya, sebab, para balon yang mendaftar datang dari berbagai profesi dan latar belakang, mulai dari generasi muda belia hingga para tokoh jaman kolonial yang sudah tergolong tua renta. Namun masih tertatih-tatih mencari dukungan partai politik sebagai pintu persyaratan pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum (KPU), selain menggunakan jalur perseorangan.

Perdebatan semakin menarik bahkan sedikit panas, karena para pendaftar yang sedang merebut kuasa tak hanya (orang asli) Mabar namun tokoh-tokoh (dari luar) Mabar juga turut serta mendaftar sebagai balon bupati dan balon wakil bupati Mabar periode 2020-2025. Situasi politik ini merupakan fenomena menarik dan menarik diperbincangkan. Sebab, demokrasi di tanah Mabar yang kenal dengan seribu wisatanya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda positif sebagai daerah yang terbuka bagi siapa saja untuk bertarung taring merebut posisi puncak sebagai pemimpin wilayah di tanah hidupnya binatang langka Varanus Komodo.

Setiap orang, memang berhak melamar atau mengajukan dirinya sebagai balon ke partai politik, apakah itu balon bupati ataupun balon wakil bupati. Undang-Undang tak melarangnya, apalagi tak ada aturan yang memberi batasan usia maksimal seseorang merebut kursi kepala daerah. Jadi, siapa pun baik orang muda belia, pun para tua renta ramai-ramai dan berbondong-bondong mendaftar ke partai politik untuk menjadi balon.

Fenomena politik demikian sesungguhnya tradisi yang diatur dalam undang-undang setiap lima tahun sekali menjelang pergantian kepala daerah. Merebut pucuk pimpinan suatu daerah saat ini, tampaknya tak seserem awal-awal reformasi. Bila awal-awal referomasi atau persisnya sejak demokrasi pemilihan langsung, menjadi calon kepala daerah itu harus benar-benar mengukur kapasitas dirinya dari berbagai aspek. Namun, kini dengan mudah dan gambangnya seseorang yang menobatkan dirinya sebagai tokoh maju sebagai bakal calon kepala daerah, tanpa harus mendapat dukungan publik luas bahkan tanpa harus mengukur kapasitas, kapabilitas dan integritas dirinya sendiri. Itulah situasi politik kontemporer. Kelihatannya penuh wajah serius tapi rasa-rasanya lucu seperti guyonan di panggung sandiwara.

Merebut kursi empuk bupati dan wakil bupati Mabar saat ini dan ke depannya semakin menarik perhatian masyarakat luas. Kabupaten Manggarai Barat sebagai jantung pariwitasa Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sudah mendunia berkat anekaragam keunggulan wisatanya, apalagi sudah masuk wilayah operasi Badan Otoritas Pariwisata (BOP) Labuan Bajo-Flores, tentu menjadi lahan ‘garapan’ banyak orang baik secara langsung maupun melalui operasi senyap tangan para calon bupati dan calon wakil bupati.

Hasrat Balon dan Peran Parpol

Sebagai warga Mabar yang sedang mengadu nasib di perantauan, memberikan aprsiasi kepada balon bupati dan balon wakil bupati Mabar, baik generasi milenial maupun tokoh era kolonial yang sudah resmi mengajukan lamaran ke sejumlah partai politik. Masyarakat luas tentu berharap dan menaru harapan besar kepada elite partai politik, untuk menjaring dan menyaring para balon sesuai standard dan indikator calon pemimpin yang mampu membawa amanat rakyat lima tahun ke depan.

Partai politik memiliki peranan penting dan strategis dalam menyaring para balon. Partai Politik bukan-lah organisasi yang bertugas menerima berkas dan menampung sampah visi-misi para balon. Sebab di sana akan terjadi proses pengidentifikasian latar belakang balon, kapasitas, kapabilitas dan intergritas para balon yang memenuhi kualifikasi. Partai politik diyakini punya parameter yang jelas dalam menelaa dan membongkar rekam jejak para balon. Sehingga dapat diketahui mana yang sekedar mendaftar dengan bermodalkan hasrat belaka tanpa diimbangi modal kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosial yang memadai, dan mana para balon yang sungguh-sungguh ingin menjadi pemimpin dengan seonggok kepamampuan yang dimilikinya untuk membawa tanah wisata Manggarai Barat kerah yang lebih baik di masa mendatang.

Partai politik harus mampu dan mengerahkan seluruh kemampuan elite partai untuk menyaring para balon tanpa adanya embel-embel terselubung apalagi terjadinya politik transaksional demi mendapatkan kepentingan pragmatis sesaat. Kesungguh-sungguhan partai politik manjaring dan menyaring balon bupati dan balon wakil bupati Mabar, sebelum direkomendasikan ke struktur partai lebih tinggi, menjadi satu harapan positif bagi masyarakat Mabar. Mengapa? Iya karena memilih calon pemimpin daerah, apalagi pemimpin Mabar, tak sama dengan memilih ketua komite sekolah atau memilih ketua karang taruna.

Pemimpin Mabar ke depannya harus memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Tanah Mabar telah menjadi perhatian banyak kalangan baik perhatian pemerintah pusat maupun perhatian para wisatawan dan pebisnis lokal dan internasional. Karena itu dibutuhkan pemimpin yang memiliki kecerdasan intelektual yang memadai. Kecerdasan intelektual sangat pentig agar ketika memimpin, ia mampu mengelolah pemerintahan secara baik dan mampu membangun komunikasi dengan dunia luar sehingga semakin banyak pihak yang berinvestasi di Mabar. Selain itu, harus punya kecerdasan emosional, agar mampu menerima, mengelola, menilai dan mengontrol emosi dirinya sendiri dengan orang lain, sehingga proses pengambilan kebijakan dapat dilakukan secara matang dan terukur dan bukan sebaliknya dilakukan dengan emosional yang justru merugikan masyarakat.

Lahirnya pemimpin demikian, tak ada cara lain, selalui proses seleksi yang ketat melalui partai politik di mana para balon tersebut mendaftar. Maka, partai politik tak hanya sekedar menerima berkas lamaran para balon tapi harus dilakukan proses seleksi, apakah itu melalui uji kelayakan, uji psikotes, kompetensi dan uji kepemimpinan. Tanpa adanya proses seleksi yang ketat di hulu melalui peran partai politik, maka hanya akan menghasilkan pemimpin bermodalkan hasrat da nyaring tak berisi di kemudian hari.

Fungsi dan peran partai politik harus dijalankan sebagaimana mestinya. Cara pandang elite partai pun juga harus diubah demi kemajuan suatu daerah. Cara pandang yang mengedepankan nilai pragmatis dan mengabaikan kwalitas balon harus dihindari, bila ada kemauan kolektif untuk memanjukan daerah. Publik percaya, partai politik bekerja dengan sungguh-sungguh menggunakan pendekatan rasionalitas bukan pendekatan pragmatis yang unjung-ujungnya transaksional.

Punya Visi Berkelas

Masyarakat percaya, sebagai calon pemimpin, para balon yang sudah mendaftarkan diri ke partai politik memiliki visi dan misi, sebagai salah satu bekal dalam mewujudkan keinginannya menjadi pemimpin. Namun, masyarakat memiliki harapan besar dalam otak para balon harus mempunyai visi berkelas, sehingga ketika memimpin dapat menghasilkan pembangunan yang monumental. Pemimpin sukses, selain dilahirkan dari suatu proses yang ketat juga dilahirkan dari kemampuannya dalam mengarahkan visi dan misi yang jelas, sehingga ia pun tahu ke mana arah kapal berlayar.

Visi dan misi berkelas tak hanya mampu menguraikannya melalui hiasan kata-kata dalam lembaran putih, tapi harus mampu diwujudnyatakan dalam aksi dan tindakan konkret. Atau dengan kata lain, visi dan misi harus terencana dan mampu diterjemahkan ke dalam tujuan yang lebih spesifik dan terukur, sehingga bawahan tahu bagaimna cara menjalankannya. Calon pemimpin yang memiliki visi dan misi berkelas tak hanya merencanakan untuk hari ini dan esok, tapi ia merencanakan untuk masa depan generasi. Sehingga dalam otak dan pikirannya selalu terngiang pertanyaan besar, seperti apa daerah ini 100 tahun ke depannya? Bukannya terbalik seperti apa nasib saya ke depannya?

Kabupaten Manggarai Barat kini sudah dikenal luas hingga dunia internasional. Calon pemimpin ke depannya pun harus sosok luar biasa. Ia memiliki strategic leadership sehingga mempunyai kemampuan mengantisipasi dan menciptakan visi masa depan Mabar. Pariwisata bukan satu-satunya sektor unggulan di Mabar, sebab masih ada sektor unggulan lainnya seperti, pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan.

Pariwisata sebagai magnet mendatangkan wisatawan harus mampu menjadi pemicu meningkatkan usaha pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Sehingga masyarakat yang tidak menikmati secara langsung pariwisata dapat merasakannya. Karena itu, pemimpin harus bisa menghubungkan satu sektor dengan sektor lainnya melalui suatu kebijakan yang komprehensip dengan model pendekatakan yang mensejahterakan masyarakat.

Kemajuan suatu daerah sangat ditentukan jiwa kepemimpinan atau leadership seorang pemimpin daerah. Saya dan tentu juga masyarakat Manggarai Barat berharap para balon pemimpin Mabar yang kini sedang melalang buana mencari kuda tunggang, memiliki leadership sehingga saat terpilih, mampu memimpin dan mengarahkan bawahan untuk mencapai tujuan bersama yakni mensejahterakan rakyat Mabar baik di kota maupun di kampunh-kampung. Sehingg merebut kuasa di tanah wisata berguna bagi semua orang dan bukan untuk diri sendiri apalagi keluarga. Selamat berjuang***

Tulisan ini pernah ditayangkan di Media Cetak Timor Express

Artikel ini telah dibaca 732 kali

Baca Lainnya
x