Opini

Jumat, 30 Maret 2018 - 12:19 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Bukit Golgota, Tempat Penyaliban Yesus Kristus (Foto: google)

Bukit Golgota, Tempat Penyaliban Yesus Kristus (Foto: google)

Tragedi Gologota Adalah Sebuah Fakta Sejarah Yang Harus Disimak

* )Oleh: Adrianus Kornasen

Bukit Golgota (bahasa Yunani: Γολγοθα, Golgotha; juga dieja “Golgatha”; dalam bahasa Inggris sering dipakai nama “Calvary”) adalah tempat penyaliban Yesus menurut Alkitab Kristen yang terletak di dekat Yerussalem, Israel.

Tempat penyaliban Yesus ini dicatat dalam semua empat Kitab Injil dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen:

Injil Matius: Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak. Injil Markus: Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak. Injil Lukas: Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. Injil Yohanes: Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.
Sejak abad ke-6 tempat itu dipakai sebagai nama sebuah gunung, dan sebuah bukit kecil sejak tahun 333.
Kitab-kitab Injil menggambarkannya sebagai sebuah “tempat” yang cukup dekat dengan kota  Yerusalem, sehingga orang-orang yang datang keluar masuk dapat membaca inskripsi “Yesus orang Nazaret, raja orang Yahudi” (INRI).

Tempat itu juga dikatakan “di luar tembok kota” (Ibrani 13:12) Sebagai tempat pelaksanaan hukuman mati dan kuburan, maka Golgota terletak di luar tembok kota. Laporan itu cocok dengan penempatan tradisional. Dalam tahun 2007 Dan Bahat, bekas City Archaeologist of Jerusalem dan Professor of Land of Israel Studies pada Bar-Ilan University, menyatakan bahwa “Enam kuburan dari abad pertama telah ditemukan di daerah sekitar ” Gereja Makam Kudus” (Church of the Holy Sepulchre). Artinya, tempat ini tanpa diragukan tadinya berada di luar kota …”. Perkiraan tarikh kuburan-kuburan ini didasarkan pada corak kokh (bentuk jamak: kokhim) yang umum pada abad pertama; meskipun corak kokh ini juga umum pada abad ke-2 dan ke-3 SM.

Injil Yohanes mencatat bahwa Golgota terletak sangat dekat dengan kota Yerusalem, begitu dekatnya sehingga setiap orang yang lewat dapat membaca inskripsi pada kayu salib-Nya (Yohanes 19;20). Dengan melihat pula nubuat pada  Mazmur 69:12 “Aku menjadi buah bibir orang-orang yang duduk di pintu gerbang”, tempat penyaliban-Nya tentunya cukup dekat dengan pintu gerbang sehingga Yesus dapat mendengar apa yang dikatakan orang mengenai Dia. Dan sebagaimana  Eusebius berkomentar pada tulisannya “Onomasticon”, bukit di luar Yerusalem ini terletak di sebelah utara  Bukit Zion kuno, yaitu lokasi Bait Suci.

Kematian Yesus Kristus Sang Juru Selamat Manusia terjadi pada  abad ke-1 Masehi, diperkirakan antara tahun  30-33. Menurut penanggalan, Ia mati tergantung di atas salib, tanggal 14  Nisan, beberapa jam sebelum hari  Paskah Yahudi dirayakan (tanggal 15  Nisan, dimulai pada sekitar pk. 18:00 saat matahari terbenam). Hukuman mati dengan disalibkan dijatuhkan atas perintah gubernur  Kerajaan Romawi untuk provinsi  Yudea,  Pontius Pilatus, berdasarkan laporan para pemuka agama  Yahudi saat itu bahwa  Yesus Kristus mengaku sebagai  Raja orang Yahudi. Berita penyaliban dan kematian ini dicatat di sejumlah tulisan sejarawan Kerajaan Romawi, orang  Yahudi dan murid-murid  Yesus. Catatan yang paling detail ditemukan di kitab-kitab  Injil dalam bagian  Perjanjian Baru  Alkitab Kristen.

Menurut hukum Yahudi, Yesus dituduh melakukan pelanggaran agama, karena mengaku sebagai “Anak Allah”, berarti menyamakan diri-Nya dengan Allah dan ini merupakan penghujatan yang harus dihukum mati. Di bawah pemerintahan Romawi, pengadilan Yahudi tidak berhak menjatuhkan hukuman mati. Oleh sebab itu, mereka melimpahkan kasus ini kepada pengadilan Romawi, supaya hukuman mati dapat dijalankan.

Setelah dijatuhi hukuman mati, serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah  mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai Raja orang Yahudi!” Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya dan berlutut menyembah-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu daripada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar, disuruh memikul kayu salib-Nya sambil berjalan menuju ke tempat penyaliban.

Tempat penyaliban Yesus berada sedikit di luar tembok kota  Yerusalem, di bukit yang disebut  Tempat tengkorak atau Golgota. Jalan yang dilalui Yesus menuju ke tempat penyaliban-Nya dikenal sebagai  Via Dolorosa (=Jalan Kesengsaraan), atau “Jalan Salib”.

Para serdadu Romawi menggiring Yesus berjalan keluar dari benteng Antonia ke tempat penyaliban-Nya. Dalam perjalanan, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang baru datang dari luar kota bernama  Simon. Penulis  Injil Markus mengenali orang ini sebagai ayah  Aleksander dan  Rufus. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus pada bahunya.

Sejumlah besar orang mengikuti Dia dalam perjalanan ke  Golgota; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui. Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami! Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?” Hanya Injil Lukas yang mencatat perkataan ini.

Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penjahat (Matius dan Markus secara spesifik menyebut mereka “penyamun”), seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. Yesus di tengah-tengah.

Penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya seperti orang-orang banyak yang menyaksikan penyaliban itu. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi kemudian yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.

Di atas kepala Yesus terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum. Tulisan itu dibuat dalam 3 bahasa: Latin (bahasa resmi pemerintah Romawi), Yunani (bahasa yang lebih umum dipakai), Ibrani (bahasa setempat). Para pakar menduga bahwa masing-masing Injil mencatat tulisan dalam bahasa yang mereka kenal baik: Matius mencatat tulisan bahasa Ibrani; Lukas mencatat tulisan Yunani; Yohanes, yang menulis Injil-Nya di kemudian hari, mengingat tulisan bahasa Latin; Markus mencatat kata-kata yang dipakai bersama di ketiga tulisan itu dalam Injilnya. Buktinya adalah bahwa jumlah huruf dan kata-kata akan membuat tulisan-tulisan itu kurang lebih sama panjangnya, jika mengikuti bahasa-bahasa tersebut.

Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam 3 bahasa. Imam-imam kepala orang Yahudi menyampaikan keluhan kepada Pilatus: “Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi.” Jawab Pilatus: “Apa yang kutulis, tetap tertulis

Kematian Yesus terjadi setelah jam 3 sore dan sebelum jam 6 malam. Pada saat yang sama, domba Paskah disembelih di Bait Suci, yaitu menurut aturan ketat dari hukum Taurat dilaksanakan antara pukul 3 sampai 5 sore, tanggal 14 Nisan.

Thallus, seorang sejarawan Romawi, mencatat pada tahun 52 M, bahwa kegelapan meliputi seluruh bumi pada siang hari di waktu sekitar  Paskah tahun 32 M. Tokoh Kristen,  Sextus Julius Africanus, pada tahun 220 menulis: “Kegelapan ini, Thallus, dalam buku ketiga karyanya “History” menyebutnya, tampaknya menurut saya tanpa alasan, sebagai gerhana matahari.” Julius lalu menjelaskan bahwa teori Thallus tidak masuk akal karena gerhana matahari tidak dapat terjadi bersamaan dengan  bulan purnama yang selalu terjadi pada hari  Paskah (15 Nisan menurut  Kalender Ibrani), yaitu saat kematian Yesus.
Kayu salib tempat di mana Yesus mati merupakan misteri besar.

Misteri kematian Yesus dan maknanya yang sebenarnya, menyampaikan dua hal yang penting tentang hubungan Allah dan hubungannya dengan manusia. Pertama, salah satu masalah yang paling mendesak dalam kehidupan adalah masalah dosa atau kejahatan.Melalui Yesus, Anak Allah, Allah bermaksud melenyapkan penderitaan yang diakibatkan manusia. Oleh karena itu salib menunjukkan kepada kita bahwa walaupun Allah tidak melenyapkan penderitaan yang diakibatkan dosa manusia dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, Ia ikut mengambil bagian di dalamnya bersama kita. Allah bukanlah hakim yang kejam yang menjatuhkan vonis yang tidak wajar kepada Yesus yang tidak bersalah. Pada kayu salib itu, Allah sebenarnya ikut mengalami akibat yang paling buruk dari keadaan kita yang berdosa. Kedua, salib menunjukkan kepada kita harga pengampunan dari Allah. Bagi kita sendiri, mengampuni orang lain sering menjadi hal yang sulit. Untuk mengampuni manusia, Allah menyerahkan AnakNya tunggal di kayu salib.

*) Penulis Adalah Warga Kabupaten Manggarai Timur

Artikel ini telah dibaca 1903 kali

Baca Lainnya
x