Ilustrasi

Oleh : Andre Kornasen

Ketika guru-guru semakin mudah dikriminalisasi, maka yang ditakutkan adalah guru tidak mau lagi tegas kepada siswanya karena khawatir dipolisikan. Ini salah satu hal yang membuat saya kwatir dan harus berpikir berulang-ulang tentang peristiwa di SDN Wae Mamba di Kecamatan Elar Kabupaten Manggarai Timur.

Berita guru SDN Wae Mamba di Kabupaten Manggarai Timur yang dipolisikan telah viral dan sebenarnya telah menjadi sebuah momok dan ancaman bagi guru. Lagi pula, siapa sih yang mau dipenjara hanya karena mengurus satu anak yang kemudian berlagak seolah-olah adalah korban kekerasan?

Saya sebetulnya setuju, jika guru harus mengubah metode pendekatan mengajarnya.

Dinamika proses pendidikan semakin dirasakan. Arus globalisasi terus menerus mengendus kemapanan lembaga emas ini. Lantas, dalam prosesnya apakah metode-metode yang digunakan sudah tepat sesuai tantangan jaman?

Kalau belum, mari kita benahi cara pendekatan yang harus menyesuaikan dengan fenomena yang terjadi di lapangan.

Tetapi kemudian, orang tua juga bukan asal ikut-ikutan mengubah sikapnya dengan gampang saja melaporkan guru ke polisi. Jewer sedikit lapor, dipukul sedikit angkat ke media sambil melebih-lebihkan. Biasanya mereka sambil teriak-teriak bahwa sekolah seharusnya adalah tempat untuk mendidik.

Seyogyanya sekolah pertama untuk mendidik anak adalah keluarga. Sudah jelas bahwa waktu yang dihabiskan siswa di sekolah tidak sebanyak dengan waktunya saat berada di rumah.

Awalnya guru membentuk karakter siswa, namun belakangan nampaknya karakter guru malah dibentuk oleh orang tua siswa. Ya, bagaimana  tidak? Kalau siswa kena masalah sedikit di sekolah, dia lapor orang tua, lalu orang tua yang katanya sayang pada anaknya ini hanya mendengarkan pengakuan anaknya dan langsung main lapor ke polisi saja.

Yang terjadi kemudian adalah guru menjadi takut, dan tidak berani menindak siswanya yang melanggar. Mereka menjadi tidak berani untuk mendidik karakter anak. Padahal kita tahu, salah satu kunci keberhasilan adalah tegaknya aturan. Ya, tapi mau bagaimana. Kalau anaknya ditegur karena tidak ikut sembahyang di hari Minggu, eh, malah nanti gurunya yang dipolisikan.

Sementara itu, siswa justru semakin berleha-leha karena merasa semua keinginannya bisa terpenuhi karena selalu merasa guru tak ada apa-apanya jika berhadapan dengan orang tua yang gampang ke kantor Polisi.

Bisa merokok di sekolah suka-suka, malas beribadah suka – suka, membolos dan menganggu temannya yang lain suka – suka, membully temannya yang lemah juga suka – suka. Lantas ketika ditegaskan dan dihukum sesuai ganjarannya, si anak ini bakal mengadu ke orang tua. Lagi-lagi, orang tua malah menuruti kemauan anaknya, lalu memilih balas dendam ke sang guru untuk melampiaskan emosi belaka dengan mengadu ke Polisi.

Saya menjadi teringat di tahun 90an ketika saya masih bersekolah di salah satu sekolah dasar di Pusat kabupaten Manggarai Timur sekarang.

Ketika pulang sekolah dan orang tua saya melihat kaki saya bengkak karena dipukul (dengan kayu kukung), saya justru dimarahi kembali oleh orang tua saya, karena di zaman itu, orang tua saya meyakini bahwa cara guru mendidik adalah salah satu cara yang terbaik. Bisa juga karena kenakalan saya yang sudah kebangetan.

Teringat akan sosok Sisilia Cangkung, guru legendaris di Kecamatan Borong yang berdiri di depan pagar sekolah SDK Rana Loba untuk melihat siswa yang terlambat. Saya paling sering menerima rotan kayu kukung miliknya. Tetapi dengan begitu, keesokan harinya saya akan lebih cepat pergi ke sekolah. Dasarnya bahwa tindakan sang guru tersebut menghasilkan efek jera yang luar biasa bagi muridnya.

Sama sekali tidak bermaksud membela kekerasan, tapi orang tua sangat perlu mengintrospeksi diri terlebih dulu. Apakah orang tua sudah mendidik anaknya dan menjalankan perannya sebagai guru pertama bagi anaknya terutama dalam hal perilaku dengan baik?

Orang tua berhak protes, kok, jika anaknya dididik dengan cara tidak mendidik. Tetapi, kalau terus menerus protes dan pingin anaknya dididik sesuai maunya, ya lebih baik silakan mencari sekolah yang sesuai kemauan sendiri saja.

Banyak orang tua yang mengkritik cara mendidik guru di sekolah. Lantas, apakah dirinya sendiri sudah mapan mendidik anaknya?

Sekolah memang tempat mendidik bagi yang mau dididik. Tapi kalau si anak didik ini justru menimbulkan masalah ketika dididik, mungkin sebaiknya kembalikan saja ke orang tuanya.

*)Penulis: Jurnalis Lokal di NTT

Loading...

Bijaksanalah dalam berkomentar. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. Baca Kebijakan berkomentar disini