Opini

Sabtu, 17 Agustus 2019 - 17:37 WIB

4 minggu yang lalu

logo

Ust. Abdul Somad (Ist)

Ust. Abdul Somad (Ist)

Ust. Abdul Somad Harus Dihukum

Oleh : Hasnu Ibrahim

Dalam hidup di dunia ini, kita harus menerima dan menyadari kenyataan bahwa bumi tempat hidup manusia adalah satu planet yang dihuni dari berbagai suku, ras, bahasa, profesi, budaya, dan agama.

Hal ini menunjukkan bahwa keragaman atau kemajemukan adalah sesuatu realitas (kenyataan) yang harus kita terima karena merupakan pemberian Tuhan.

Keragaman, kemajemukan atau pluralitas terdapat di berbagai bidang kehidupan, termasuk agama.

Bahkan hal ini tidak hanya terjadi di lingkup masyarakat tetapi juga dalam lingkup rumah tangga.

Di dunia saat ini, sulit sekali ada negara yang betul-betul memiliki masyarakat yang satu agama. Kalaupun ada pasti pada akhirnya akan terjadi juga keragaman yang muncul dari penafsiran teks-teks kitab suci agama tersebut, hingga terjadi keragaman pada tingkatan implementasi ibadahnya.

Sebagai contoh dalam islam pun ada beberapa mazhab, ada sunni, syiah, ahmadiyah, dll. Dan di setiap mazhab atau aliran pun ada beberapa varian di internalnya.

Sesuai dengan perkembangan zaman, maka kita semua menuju pada dunia yang semakin majemuk atau plural. Sebagai penghuninya kita bukan malah menjauhkan diri dari adanya pluralitas, tetapi bagaimana kita membangun jembatan atau mekanisme untuk menyikapi keniscayaan pluralitas ini.

Tuhan menciptakan manusia yang beragam, agar masing-masing saling mengenal dan menghargai eksistensi masing-masing.

Termasuk dengan menciptakan berbagai macam agama, bukan untuk saling mendiskriminasi tetapi untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan bagi sesama manusia dan semesta.

Karena agama bukanlah sebuah tujuan tetapi sebagai sebuah metode atau sarana untuk menuju Tuhan.

Hal pertama yang harus kita lakukan sebagai pemeluk agama adalah menyadari adanya perbedaan antara agama yang dianutnya dengan agama orang lain. Bahwa kita hadir bersama The others (orang lain/liyan) dengan demikian sebuah identitras agama bertemu dengan identitas lainnya.

Karena itulah mengapa setiap orang perlu toleran terhadap keragaman.

Sebagai contoh agama Islam yang hadir setelah kehadiran agama-agama lain seperti agama Yahudi, Kristen, majusi, Zoroaster, Hindu, Budha, mesir kuno, dll.

Islam tidak menafikan semua konsep ajaran-ajaran agama terdahulu, Islam justru menyatakan bahwa kebenaran wahyu dalam agama-agama tersebut tidak bertentangan satu dengan yang lainnya.

Kalau dirunut dalam sejarah peradaban yang panjang, maka dasar-dasar untuk hidup bersama dalam masyarakat yang beragam secara religius-keagamaan memiliki akar dan landasan yang kuat secara normatif dan historis.

Kalau terjadi ketidak harmonisan bahkan sampai terjadi perang, penyebab utamanya bukan karena esensi ajaran agama, tetapi karena kondisi situasi historis, ekonomis, politis dari komunitas agama-agama tersebut.

Ketidak harmonisan tersebut disebabkan adanya kompetisi untuk menguasai sumber-sumber daya ekonomi dan politik kekuasaan, dan bukan karena esensi ajaran agamanya.

Dalam era yang semakin plural ini terdapat tantangan yang harus di hadapi yaitu ada indikasi menguatnya sikap intoleransi dan radikalisme.

Pada dasarnya Islam adalah ajaran rahmatan lil alamin ( agama yang memberikan Rahmat bagi seluruh alam ). Islam yang mampu memberikan kesejukan, Islam yang dalam berdakwah dengan mengedepankan toleransi dan moderat, agar Islam menjadi agama yang ramah, islam sebagai rahmatan lil alamin harus terus diperjuangkan bagi perdamaian dunia.

Seorang Muslim Indonesia sejatinya harus dibekali dengan Nilai-nilai Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan, serta Kesederhanaan, Sikap Ksatria, dan Kearifan local.

Dalam salah satu nilainyai ada Keadilan. Karena keadilan tidak sendirinya hadir di dalam realitas kemanusiaan maka harus diperjuangkan.

Martabat manusia hanya bisa dipenuhi dengan adanya keseimbangan, kelayakan, dan kepantasan dalam masyarakat.

Sebagai kader Nahdlatul Ulama ( NU ) salah satu ormas terbesar dibangsa Indonesia yang senantiasa menjunjung tinggi dan menjaga kebhinekaan di bangsa ini, kami sangat merindukan guru bagi bangsa Indonesia, guru pluralisme di bangsa Indonesia yakni K.H Abdurrahman Wahid Alias Gus Dur.

Gus Dur selalu melindungi dan membela pada kelompok masyarakat yg diperlakukan tidak adil, karena ini merupakan tanggung jawab moral kemanusiaan. Dan juga nilai kesetaraan, bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki martabat yg sama di hadapan Tuhan.

Kesetaraan meniscayakan perlakuan yg adil GUSDUR sepanjang hidupnya membela yg tertindas dan dilemahkan, termasuk kaum minoritas dan marjinal.

Apalagi baru-baru ini, bangsa Indonesia sedang terpukul, tersakiti, bahkan marah atas ucapan profokatif yang sangat jelas bentuk penistataan terhadap agama yang diakui dibangsa Indonesia ( Kristen dan Katolik ).

Ucapan tersebut yang disampaikan oleh salah satu yang katanya seorang Ust. Tokoh penceramah, tokoh pendakwah agama Islam, tapi tidak mencerminkan Islam yang memberikan kesejukan dan pesan perdamaian, bagi saya Somad tidak pantas menjadi penceramah, sudah saatnya Somad harus diadili demi kepastian hukum yang menjamin kebebasan beragama di negeri ini.

Sebagai seorang Muslim Indonesia, sungguh prihatin dengan ucapan kotor dan tidak terdidik yang disampaikan dengan lantang oleh Ust. Abdul Somad.

Demi menjaga kebhinekaan dan keharmonisan dibangsa Indonesia, terkhususnya di provinsi Nusa Tinggi Toleransi, maka kami mendesak aparat penegak Hukum agar memanggil Ust. Abdul Somad, meminta klarifikasi dan pertanggung jawaban atas apa yang telah disampaikan.

Hukum harus berlaku seadil-adilnya, negara harus turun tangan dalam mengatasi persoalan ini, demi memanimalisir konflik horizontal ditengah-tengah masyarakat kita.

Peristiwa tersebut selayaknya menjadi lampu merah, bukan lagi lampu kuning, bagi pemerintah dalam mengelola relasi antar agama dan khususnya bagi seluruh tokoh agama. Karena peristiwa tersebut bukan terjadi secara kebetulan dan sporadis melainkan sudah bisa dilihat gejala ketegangan sebelumnya dan terjadi di berbagai tempat dalam sekala yang berbeda-beda.

Untuk itulah perlu langkah-langkah yang nyata dalam melakukan toleransi aktif agar tercapainya kerukunan dan harmoni dalam kebhinekaan.

Langkah-langkah yang nyata dan kontinyu tersebut harus di mulai dari level lokal atau lingkungan masyarakat sekitar, karena di tingkat grass root atau akar rumput inilah isu-isu tentang SARA sering dihembuskan dan mudah menjadi bola api panas yang membakar kerukunan beragama.

Sebagaimana yang pernah di sampaikan Gus Dur, bahwa beliau telah menginventarisir arti agama dalam ragam bahasa, baik dalam bahasa sansekerta maupun berbagai bahasa indo-semit, semua pengertian agama tampaknya menuju kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang perintah-perintahnya NYA mesti dijalankan manusia.

Kita semua mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan kebenaran Illahi, tapi pada saat yang sama harus menjunjung tinggi nilai-nilai perikemanusiaan.

Untuk itulah keragaman harus kita letakkan bukan hanya sebagai realitas social, melainkan juga sebagai gagasan-gagasan, paham-paham, pikiran-pikirannya.

Kebhinekaan dan keragaman sudah berlangsung berabad-abad, jauh sebelum negeri ini terbentuk. Dan hal ini secara konstitusi juga dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 bahwa, “Negara Untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya”.

Mandataris Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Nusa Tenggara Timur

Artikel ini telah dibaca 548 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya