Sosok

Kamis, 23 Januari 2020 - 20:56 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Ahmad Burhan (Ist)

Ahmad Burhan (Ist)

Burhan si Mangrove Man, Kisah Suskes Penanam 2500 Anakan Mangrove di Teluk Terang

Tak ada undang – undang yang melarang warga negara untuk menanam mangrove di manapun di Indonesia

Burhan

Floreseditorial.com, Labuan Bajo – Bapa Rawan, demikian ia sering disapa oleh warga sekitar Terang, Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng, kabupaten Manggarai Barat.

Pemilik nama lengkap Ahmad Burhan ini sejak 15 tahun silam telah menanam sebanyak 2500an anakan mangrove di tepian pantai Teluk Terang sejak tahun 2003 diatas lahan seluas hampir 1 Ha.

Tak banyak yang tahu, sedikit demi sedikit ia telah berhasil menyelamatkan Teluk Terang dari bahaya abrasi. Kesadaran untuk menyelamatkan kampungnya dari bahaya abrasi menjadi motivasi yang melekat dalam diri ayah dari 6 orang anak itu.

Bermodalkan pengetahuan seadanya ia pun mencoba untuk menanam mangrove di kawasan tersebut. Bermodalkan bibit mangrove yang ia peroleh dari beberapa induk mangrove yang sebelumnya telah tumbuh di kawasan teluk terang.

“Saya belajar dari alam, saya mencabut anakan Mangrove dari dekat induk mangrove dan sebagian diantaranya saya semai sebelum ditanam, Alhamdulillah, mangrove itu hidup,” kata Burhan saat ditemui media ini di Labuan Bajo, Kamis (23/01/2020).

Menanam merupakan panggil jiwa, demikian Burhan melanjutkan kisahnya saat dihujani pertanyaan dibalik kisah suksesnya menanam mangrove dengan jenis Rhizophora sebanyak 2500an anakan.

“Saya ingin agar anak cucu saya bisa melihat Terang seperti yang saya lihat saya ini. Selain itu banyaknya kawasan mangrove yang dijadikan lahan tambak, membuat saya mulai khawatir jangan jangan anak cucu saya tidak bisa makan kepiting dari hutan Mangrove, karena hutan Mangrove itu adalah tempat habita kepiting,” kata Pria yang kini dijuluki Mangrove Man itu

Kata dia, usai menanam mangrove, ia pun berusaha untuk melakukan penjagaan dan pemeliharaan. Meski banyak cibiran yang ditujukan pada dirinya, namun ia tetap teguh dalam pendirian untuk menjaga mangrove yang ia tanam.

“Selain itu, saya juga ingin menunjukkan pada pemerintah bahwa yang saya lakukan, bisa juga dilakukan di daerah lain. Agar pemerintah bisa mendorong masyarakat dan memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan sekitar kita dari bahaya abrasi,” tutur Burhan.

Hutan Mangrove di kawasan Teluk Terang yang ditanam oleh Ahmad Burhan pada tahun 2003 silam (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Banyaknya penebangan liar terhadap hutan mangrove untuk dijadikan kayu api maupun bahan bangunan turut menjadi motivasinya untuk menyelamatkan habitat mangrove.

“Saya cuma didukung oleh orang tua saya saat itu,” tuturnya.

Setelah melihat mangrove hasil jeripayahnya, beberapa tahun kemudian, pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat melalui program Gerakan Nasional penanaman mangrove (Gerhan) turut bersama – sama menyelamatkan habitat mangrove di kawasan teluk terang.

“Dari kegiatan Gerhan saya belajar banyak untuk terus membudidayakan mangrove hingga saat ini,” katanya.

Saat ini, mangrove hasil persemaian Burhan sudah dikirim ke sejumlah daerah di kabupaten Manggarai Barat seperti Naga Kantor, Nanga Nae, Boleng Darat hingga ke Pulau Rinca.

Dari hasil Mangrove yang ia tanam, habitat kepiting di kawasan tersebut terus berkembang.

“Bahkan kepiting yang ada di Labuan Bajo ini sekarang itu didatangkan dari Terang dari hutan mangrove yang saya tanam 15 tahun lalu,” tambahnya.

Iapun berharap agar pemerintah terus mendorong masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan dengan tetus menanam.

“Tak ada undang – undang yang melarang warga negara untuk menanam mangrove dimanampun di Indonesia,” tukas Burhan.

Laporan : Andre Kornasen

Artikel ini telah dibaca 262 kali

Baca Lainnya
x