Sosok

Kamis, 7 November 2019 - 14:27 WIB

6 hari yang lalu

logo

Agus, seorang pedagang sapu asal Rua, kecamatan Wae Ri'i, Kabupaten Manggarai (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Agus, seorang pedagang sapu asal Rua, kecamatan Wae Ri'i, Kabupaten Manggarai (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Kisah Agus Penjual Sapu Asal Wae Ri’i

Floreseditorial.com, Ruteng – Kesuksesan bisa diraih oleh siapapun asalkan mempunyai kemauan dan kerja keras. Demikian ungkapan yang selalu dipegang oleh Agus (43), seorang pedagang sapu asal Rua, kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai.

Agus berasal dari keluarga sederhana. Semula ia hanya seorang petani di desanya, kini bisa bekerja mandiri dengan hasil yang lebih dari cukup berkat usahanya memproduksi kerajinan sapu.

Agus bercerita, usahanya dirintis mulai tahun 2000 silam, ia meneruskan pekerjaannya ayahnya yang juga berprofesi sebagai penjual sapu. Di saat kondisi ekonomi sedang surut, mereka memutuskan untuk bekerja dan memilih menjadi penjual sapu.

“Awalnya saya nekat saja, karena tidak punya modal untuk membuka usaha, saya mencoba untuk melanjutkan pekerjaan ayah saya,” kata Agus saat ditemui wartawan media ini disalah satu rumah makan di Ruteng, Kamis (07/11/2019).

Usaha menjual sapu memang gampang gampang susah. Ia harus berjalan dari rumah ke rumah menawarkan sapu yang ia produksi sendiri dari kampungnya di Wae Ri’i.

“Di sekitar kami banyak bahan baku untuk membuat sapu, saya fokus pada usaha itu,” papar pria asli Kabupaten Manggarai itu.

Agus juga mendapatkan penyedia bahan baku dari kampung – kampung sekitar desanya. Sedikit demi sedikit ia memproduksi aneka alat kebersihan rumah, mulai dari sapu lidi, sapu ijuk dengan berbagai jenis.

Seiring berjalannya waktu, usahanya mulai dikenal. Ia mulai memasarkan sapunya di sejumlah kabupaten dari Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai barat hingga Kabupaten Manggarai timur.

“Produk saya mulai banyak yang menyukai, karena saya memang mengutamakan kualitas. Sapu kami memang lebih berat, tapi kuat dan rapi. Harganya relatif murah, berkisar Rp 10.000–Rp 15.000 per buah,” urai Agus.

Peminat produk-produknya tidak saja dari Kota dan Kabupaten Tetapi juga dari luar Kabupaten Manggarai seperti Kabupaten Ngada dan Kabupaten Ende.

Dirinya pun berharap pemerintah daerah untuk terus memberi dukungan kepada para pengusaha-pengusaha kecil di Manggarai agar berkembang. Tidak sekedar mengadakan seminar maupun pelatihan akan tetapi juga membantu pemasaran dan membeli produk-produknya.

Laporan : Andre Kornasen

Artikel ini telah dibaca 1905 kali

Baca Lainnya
x