• Jumat, 1 Juli 2022

Siraman Rohani Kamis, 12 Mei 2022: Menerima yang Diutus Berarti Menerima Allah!

- Kamis, 12 Mei 2022 | 00:10 WIB
Yesus Kristus (Ilustrasi)
Yesus Kristus (Ilustrasi)

Oleh: Pater Fredy Jehadin

INJIL YOHANES
13: 16 - 20

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan rotiKu, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."

Baca Juga: Siraman Rohani Rabu, 11 Mei 2022: Yesus Kristus Adalah Tanda Nyata Kehadiran Bapa Di dunia, Dengarkanlah Dia

Tema:
Menerima yang Diutus Berarti Menerima Allah!

Saudara-saudari... Injil hari ini sungguh menyejukkan hati-ku. Saya tidak tahu bagaimana perasaan dari teman-teman yang secara resmi diutus oleh Pejabat Gereja, entah oleh uskup atau oleh pemimpin kongregasi atau oleh Pastor paroki bersama anggota dewan-nya, untuk melanjutkan misi Kristus agar ajaran-Nya selalu diwartakan sehingga kerajaan Allah hidup ditengah kita. Lewat bacaan Injil hari ini, saya diteguhkan, karena saya diutus oleh Yesus Kristus sendiri, lewat pejabat yang sudah dipercayakan-Nya. Sewaktu saya diutus, sesungguhnya kekuatan Kristus sudah menyelimuti saya; sewaktu saya diutus, sesungguhnya Yesus Kristus mulai berjalan bersama saya ke tempat tugas, mendampingi saya sampai pada akhir hidupku di dunia ini.
Injil katakan: “Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” Yoh 13: 20  Betapa bahagianya orang yang diutus, karena Tuhan selalu ada bersama-Nya.

Pertanyaan kita: Bagaimana kalau seorang utusan Kristus, seorang imam misalnya, ditolak oleh umat Allah? Apakah dengan itu umat sudah menolak Kristus? Untuk menjawab pertanyaan ini pasti perlu mencari tahu latar-belakang ceriteranya. Umat Allah pada dasarnya tidak semena-mena menolak utusan Allah. Umat Allah akan menolak seorang imam (misalnya) kalau dia bertingkah laku sesuka hatinya; bertingkah laku tidak sesuai dengan tingkah laku Yesus Kristus.

Hari ini Yesus dengan tegas katakan: “Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, atau pun seorang utusan dari dia yang mengutusnya.”  Dengan ini Yesus dengan tegas ingatkan para utusan-Nya supaya selalu sadar bahwa mereka adalah hamba tuannya, hamba-hamba Yesus Kristus; mereka adalah utusan Kristus, Kristus selalu lebih tinggi dari pada mereka, bukan sebaliknya, mereka lebih berkuasa dari Kristus. Kalau ada umat yang menolak imamnya, mungkin karena imam ini tidak mengikuti kriteria Yesus Kristus, bahwa imamnya tidak bertingkah laku sebagai seorang hamba, tetapi sebaliknya dia sangat otoriter, mau menang sendiri, lebih suka dilayani daripada melayani. Sebagai utusan Allah, para utusan harus selalu berkomunikasi dengan Tuhan yang mengutus-nya; mendengar suara-Nya; selalu prioritaskan kehendak Dia yang mengutusnya dari pada kehendak-nya sendiri.

Baca Juga: Siraman Rohani Selasa, 10 Mei 2022: Bagi Yang Percaya Tidak Perlu Pembuktian!

Halaman:

Editor: FEC Media

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X