Legenda Danau Perawan di Kabupaten Sikka Nusa Tengga Timur, Ada Sosok Nyata yang Muncul Ketika Dipanggil!

- Minggu, 20 November 2022 | 11:23 WIB
Legenda Danau Koliheret di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur
Legenda Danau Koliheret di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur

Floreseditorial.com - Danau Koliheret merupakan 'danau perawan' yang ada di Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Danau Koliheret juga masih terdengar asing bagi sebagian besar warga Kabupaten Sikka dan Flores umumnya karena Danau Koliheret merupakan sebuah danau yang masih “perawan” yang dianggap angker oleh warga Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT.

Danau Koliheret dikeliling oleh pepohonan besar dan aneka pohon bambu yang dibiarkan tumbuh subur karena dilarang untuk ditebang. Danau ini sendiri terletak dekat pinggir jalan dan dekat dengan rumah warga Dusun Klahit, Desa Watudiran serta berbatasan dengan kawasan hutang lindung Egon Ilinmedo.

Baca Juga: 4 Pemilik Zodiak Ini Akan Raih Kesuksesan dan Kaya Raya di Tahun 2023

Untuk sampai ke Danau Koliheret, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dari pertigaan Patiahu kearah selatan melewati Desa Runut hingga mendekati perbatasan Desa Hale, Kecamatan Mapitara dengan jarak tempuh sekitar 3,6 kilometer.

Danau ini pernah menjadi sumber penularan penyakit malaria di Kabupaten Sikka khususnya bagi desa-desa sekitar pada tahun 2017 silam. Alkisah, danau ini dahulunya adalah sebuah kampung yang tenggelam akibat perbuatan manusia.

Petrus Hugo Pulung, pemilik lahan areal Danau Koliheret yang sekaligus merupakan tokoh adat setempat saat ditemui media setempat beberapa waktu lalu mengisahkan awal mula terjadinya Danau Koliheret.

Baca Juga: Simak 7 Arti Mimpi Telanjang, Berikut Pertanda Baik dan Buruk yang Perlu Kamu Ketahui

Dahulu, nenek moyang mereka membuka kebun di sebuah daerah yang bernama Duking dan lumbungnya berada di Wua Bahang Bale Kloang yang dijaga oleh dua orang kakak beradik, laki-laki dan perempuan.

Selama menjaga lumbung padi, keduanya hidup sendirian dan hidup layaknya pasangan suami istri yang oleh adat setempat dilarang keras karena hal tersebut melanggar hukum adat setempat. Saat usai panen, keduanya lalu kembali ke Kampung Koliheret.

Halaman:

Editor: Maria H.R Waju

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Generasi Pengabdi Hoaks

Sabtu, 7 Januari 2023 | 09:53 WIB

Jelang Tahun Baru 2023, Waspadai Beberapa Hal ini

Jumat, 23 Desember 2022 | 09:46 WIB

Sejarah Kabupaten Manggarai Barat

Sabtu, 10 Desember 2022 | 21:48 WIB

Titipkan Air Mataku pada Hujan

Selasa, 11 Oktober 2022 | 20:19 WIB
X